PEKANBARU - Penurunan signifikan titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi Riau.
Saat total hotspot Sumatera pada Rabu (16/9/2026) sore turun menjadi 1.930 titik, jumlah titik panas di Riau justru meningkat menjadi 125 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah mengatakan, peningkatan hotspot di Riau tersebar di delapan kabupaten/kota.
Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Inhu (Inhu) dengan 73 titik, disusul Kampar sebanyak 34 titik.
"Riau mengalami peningkatan jumlah titik panas menjadi 125 titik," ujar Indah.
Data BMKG Pekanbaru menunjukkan, hotspot Riau tidak tersebar secara merata. Selain Inhu dan Kampar, titik panas terpantau di Inhil sebanyak 11 titik dan Dumai tiga titik.
Sementara itu, masing-masing satu titik panas terdeteksi di Kuansing, Pelalawan, Rohul dan Siak.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hotspot Riau terkonsentrasi di dua wilayah.
Inhu menyumbang 73 titik atau lebih dari separuh total hotspot Riau, sedangkan Kampar menyumbang 34 titik.
Dengan demikian, sekitar 86 persen hotspot Riau pada Rabu sore berada di dua daerah tersebut.
Kondisi ini membuat perkembangan titik panas di Inhu dan Kampar menjadi bagian penting dalam memantau potensi peningkatan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Riau.
Di tingkat Sumatera, jumlah hotspot mencapai 1.930 titik pada Rabu sore. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, yakni 1.414 titik.
Jumlah tersebut jauh melampaui provinsi lain. Jambi tercatat memiliki 182 hotspot, Bangka Belitung 118 titik dan Lampung 80 titik.
Sementara itu, Sumatera Barat terpantau sembilan titik, Sumatera Utara satu titik dan Kepulauan Riau satu titik.
Jika dibandingkan dengan kondisi di Riau, data tersebut memperlihatkan situasi yang berbeda. Secara regional jumlah hotspot Sumatera menurun, tetapi Riau justru mencatat kenaikan.
Perbedaan arah tersebut menjadi indikator bahwa penurunan hotspot secara regional belum dapat dijadikan gambaran tunggal untuk membaca perkembangan karhutla di setiap provinsi.
Di Riau sendiri, perhatian terutama tertuju pada Inhu dan Kampar karena kedua wilayah tersebut menyumbang porsi terbesar dari total titik panas yang terdeteksi BMKG.
Perkembangan hotspot tersebut masih perlu dipantau bersama kondisi cuaca dan faktor lapangan untuk mengetahui apakah titik panas berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.