PEKANBARU – Lonjakan titik panas (hotspot) di Sumatera pada Selasa (15/9/2026) sore mencapai level yang patut diwaspadai.
Data BMKG Pekanbaru mencatat sedikitnya 4.028 hotspot terdeteksi di sejumlah provinsi, namun sebagian besar justru terkonsentrasi di Sumatera Selatan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia menyebut, Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 2.994 hotspot, disusul Bangka Belitung 354 titik dan Jambi 319 titik.
Sementara itu, kondisi di Riau relatif jauh lebih rendah. BMKG mencatat hanya 40 hotspot di provinsi tersebut atau sekitar 1 persen dari total hotspot Sumatera pada sore hari.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Selasa (15/9/2026) sore meroket jadi 4.028 titik," ujar Bella.
Meski jumlah hotspot Riau relatif kecil dibandingkan provinsi lain, distribusinya tidak merata. Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 24 titik.
Angka tersebut mencapai 60 persen dari total hotspot Riau yang terpantau BMKG pada sore hari.
Selain Indragiri Hulu, hotspot juga terdeteksi di Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak tujuh titik, Kuantan Singingi empat titik, Pelalawan tiga titik, serta Dumai dan Rokan Hilir masing-masing satu titik.
Lonjakan hotspot Sumatera kali ini terutama dipicu kondisi di Sumatera Selatan. Dari total 4.028 titik yang terdeteksi, sebanyak 2.994 berada di provinsi tersebut atau sekitar 74 persen dari keseluruhan hotspot Sumatera.
Provinsi lain yang mencatat hotspot cukup tinggi adalah Bangka Belitung dengan 354 titik, Jambi 319 titik, Lampung 269 titik dan Bengkulu 32 titik.
Sementara Sumatera Barat terpantau 13 titik, Sumatera Utara dua titik dan Kepulauan Riau lima titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan hotspot Sumatera pada Selasa sore tidak secara langsung menggambarkan kondisi kebakaran di seluruh wilayah secara merata.
Pusat konsentrasi terbesar justru berada di Sumatera Selatan, sedangkan Riau mencatat jumlah yang jauh lebih rendah.
Namun, pemantauan tetap penting dilakukan karena keberadaan hotspot merupakan salah satu indikator awal yang dapat digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Perubahan jumlah dan sebaran titik panas juga dapat berlangsung cepat mengikuti kondisi cuaca, tutupan lahan serta aktivitas pembakaran.