PEKANBARU - Peningkatan titik panas atau hotspot kembali terjadi di wilayah Sumatera. Data pemantauan BMKG Pekanbaru pada Minggu (13/9/2026) sore mencatat 1.022 titik panas, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy, mengatakan Sumatera Selatan menjadi penyumbang hotspot terbesar dengan 749 titik. Angka tersebut jauh melampaui provinsi lain yang terpantau pada periode yang sama.
"Total titik panas wilayah Sumatera kembali meningkat menjadi 1.022 titik," ujar Putri Santy.
Selain Sumatera Selatan, hotspot terpantau di Lampung sebanyak 75 titik, Bangka Belitung 73 titik, Jambi 58 titik, Bengkulu 13 titik, Kepulauan Riau 15 titik, Sumatera Barat 3 titik, serta Sumatera Utara 1 titik.
Kondisi serupa juga terlihat di Riau. Jumlah hotspot di provinsi ini tercatat 35 titik, tersebar di sembilan kabupaten.
Yang paling menonjol adalah Indragiri Hulu dengan 15 titik hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi di Riau pada pemantauan Minggu sore.
Sebarannya meliputi Indragiri Hulu 15 titik, Kuantan Singingi 4 titik, Siak 4 titik, Bengkalis 3 titik, Pelalawan 2 titik, Rokan Hilir 2 titik, Indragiri Hilir 2 titik, Kampar 1 titik dan Rokan Hulu 1 titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hotspot Riau belum terkonsentrasi pada satu kawasan saja. Titik panas tersebar mulai dari wilayah pesisir hingga kawasan pedalaman.
Secara regional, dominasi Sumatera Selatan menjadi perhatian karena provinsi tersebut menyumbang sekitar tiga perempat dari total hotspot Sumatera yang terpantau BMKG pada Minggu sore.
Dari total 1.022 titik, sebanyak 749 berada di Sumatera Selatan. Besarnya konsentrasi tersebut membuat dinamika kebakaran hutan dan lahan di provinsi tetangga menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kondisi atmosfer Sumatera.
Sementara di Riau, keberadaan 35 hotspot menunjukkan potensi kebakaran lahan masih perlu diwaspadai, terutama karena sebagian titik berada di wilayah yang selama ini memiliki kerentanan terhadap karhutla.
Namun, hotspot merupakan indikator awal adanya titik dengan anomali suhu dan tidak secara otomatis berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran hutan dan lahan. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Masyarakat juga perlu mencermati perkembangan cuaca dan kualitas udara, khususnya apabila peningkatan hotspot diikuti munculnya asap yang terbawa angin ke wilayah permukiman.