PEKANBARU - Bencana ekologis Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau kini berada pada fase yang sangat mengkhawatirkan.
Hingga pekan pertama September 2026, total luasan daratan yang hangus menjadi abu menyentuh angka fantastis, 18.770 hektar.
Eskalasi ini menjadi alarm merah bagi pemangku kebijakan, mengingat titik api terus bermunculan secara masif tanpa tanda-tanda mereda.
Berdasarkan pemutakhiran data harian terbaru, hanya dalam tempo 24 jam, Riau harus kehilangan 87,9 hektar lahan akibat diamuk si jago merah.
Kabupaten Pelalawan muncul sebagai penyumbang eskalasi terburuk dalam laporan kali ini dengan penambahan area kritis seluas 64,4 hektar.
Kalaksa BPBD dan Damkar Riau, Edy Afrizal membenarkan pergerakan angka yang dinamis dan berpotensi terus membengkak jika kondisi cuaca tidak bersahabat.
"Laporan harian ini terus berubah sesuai situasi lapangan setiap harinya. Dari data kita terima kemarin penambahan lahan terbakar sebanyak 87,9 hektar," ungkap Edy Afrizal, Jumat (4/9/2026).
Jika ditarik dari garis waktu 1 Januari 2026, Kabupaten Bengkalis hingga kini memegang "rekor hitam" sebagai zona terparah dengan total wilayah terdampak mencapai 8.454,40 hektar.
Posisi kedua disusul erat oleh Pelalawan yang akumulasi luasan lahan terbakarnya kini meroket menjadi 6.705,39 hektar.
Penyebaran api juga terpantau tak memberikan kelonggaran di kabupaten lain.
Berdasarkan data mutakhir, Inhil dan Inhu masing-masing melaporkan perluasan lahan terbakar sebanyak 10,5 hektar.
Sementara itu, wilayah Kepulauan Meranti dan Kuansing masing-masing mencatatkan tambahan 1 hektar, disusul Rohul dengan 0,5 hektar. Beruntung, wilayah Siak, Bengkalis, Rohil, Dumai, Pekanbaru, dan Kampar dilaporkan nihil penambahan titik api baru pada laporan harian tersebut.
Menghadapi situasi yang kian mendesak ini, operasi pemadaman berskala besar terus diupayakan.
Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD lintas kabupaten/kota, hingga pasukan Manggala Agni kini terus berjibaku di garis depan, membelah kepungan asap baik dari darat maupun melalui operasi water bombing di udara.
“Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” pungkasnya.