PEKANBARU - Bayang-bayang kelam bencana kabut asap kembali mengancam langit Sumatera, termasuk Riau.
Alih-alih mereda, grafik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) justru menunjukkan eskalasi yang mengerikan jelang akhir pekan ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat ledakan ekstrem jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera yang menembus angka 2.689 titik pada Jumat (4/9/2026) sore.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya akan potensi krisis udara bersih lintas provinsi.
Kondisi paling kritis terjadi di wilayah selatan Sumatera. Provinsi Sumatera Selatan kini berstatus "membara" dengan temuan luar biasa mencapai 1.670 titik api, menjadikannya episentrum Karhutla saat ini.
Namun, Riau tidak bisa bernapas lega. Posisi Riau kini berada di ujung tanduk dengan sumbangan 239 titik panas yang terus menjalar secara masif di delapan kabupaten dan satu kota.
"Lonjakan sore ini sangat tajam dan merata di hampir seluruh wilayah Sumatera," ucap Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia.
"Sumatera Selatan memang menjadi penyumbang terbanyak, namun kita di Riau harus ekstra waspada karena angka 239 titik ini menandakan api mulai agresif memakan lahan basah kita," tegasnya.
Di Riau, kerusakan lahan paling parah bergeser ke kawasan pesisir dan selatan.
Kabupaten Inhil menjadi wilayah paling kritis dengan 81 titik panas, disusul Inhu sebanyak 56 titik, dan Siak 44 titik.
Tingginya angka di kawasan bergambut ini meningkatkan risiko asap tebal yang sulit dipadamkan.
Bahkan, ibu kota provinsi pun tidak luput dari ancaman. Kota Pekanbaru, yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai terdeteksi memiliki 2 titik panas.
Daerah penyangga lainnya di Riau juga turut menyumbang api, meliputi Kabupaten Kepulauan Meranti 20 titik, Pelalawan 18 titik, Bengkalis 16 titik, serta Kampar dan Kuantan Singingi yang masing-masing mendeteksi 1 titik.
Secara regional, kepungan api di luar Sumsel dan Riau juga mengkhawatirkan. Provinsi Jambi mencatatkan 324 titik, disusul Bangka Belitung dengan 263 titik, dan Lampung 111 titik.
Sisanya tersebar di Kepulauan Riau 32 titik, Sumatera Barat 26 titik, Bengkulu 17 titik, Sumatera Utara 5 titik dan Aceh 2 titik.
Dengan arah angin yang kerap berubah, ribuan titik panas di provinsi tetangga, terutama Jambi dan Sumatera Selatan, berpotensi mengirimkan asap kiriman ke langit Bumi Lancang Kuning dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada intervensi pemadaman terpadu dari pemerintah pusat dan daerah.