PEKANBARU - Terbongkarnya gudang rokok tanpa pita cukai di Pekanbaru berdampak langsung ke tingkat paling bawah, warung-warung kecil.
Dalam beberapa pekan terakhir, pedagang eceran mengeluhkan pasokan rokok murah yang semakin langka, terutama di jalur padat seperti Jalan Soekarno Hatta dan Jalan HR Soebrantas.
Ada perubahan mencolok pada etalase warung. Rokok-rokok tanpa cukai yang sebelumnya mudah ditemui kini hampir menghilang.
Sebagian besar pedagang hanya menampilkan merek resmi, sementara rokok ilegal yang dahulu mendominasi penjualan tak lagi tersedia secara rutin.
Seorang pemilik warung di Jalan Soekarno Hatta mengungkapkan bahwa pasokan rokok tanpa cukai mulai terputus sejak akhir 2025.
“Biasanya ada saja yang datang menawarkan barang. Sekarang jarang, dan kalau ada pun tidak menentu,” ujarnya.
Margin Besar yang Kini Hilang
Bagi pedagang kecil, rokok tanpa cukai bukan sekadar barang dagangan, melainkan penopang utama keuntungan harian.
Salah satu pedagang menyebut, rokok merek Lufman dibeli dengan harga sekitar Rp6.500 per bungkus dan dijual Rp10 ribu.
“Untungnya bisa Rp3.500 per bungkus, dan itu cepat habis,” katanya.
Selain Lufman, merek lain seperti Slava, OK Bold, Manchester, hingga Live Bold juga disebut cukup diminati konsumen.
Untuk merek Slava, pedagang mengaku membeli seharga Rp16.500 dan menjualnya Rp20 ribu.
“Kalau dihitung rata-rata, untung rokok begitu bisa Rp3.500 sampai Rp5 ribu per bungkus,” ujar pedagang di kawasan HR Soebrantas.
Rokok Resmi Untung Tipis
Sebaliknya, rokok berpita cukai dinilai memberikan margin jauh lebih kecil. Seorang pemilik kedai mencontohkan rokok Surya yang dibeli Rp37 ribu dan dijual Rp39 ribu.
“Untungnya cuma sekitar Rp2 ribu. Rokok Sampoerna juga sama, tidak sampai Rp2 ribu,” tuturnya.
Untuk rokok kemasan kecil dengan harga modal Rp26.500, pedagang biasanya menjual Rp28 ribu.
“Untungnya tipis. Makanya pembeli lebih banyak cari yang murah,” tambahnya.
Pembeli Masih Ada, Barang yang Langka
Minat masyarakat terhadap rokok murah diakui masih tinggi, terutama dari kalangan pekerja harian dan pelanggan tetap. Harga terjangkau menjadi alasan utama.
“Yang dicari orang itu murahnya. Selama ada barang, pasti laku,” ujar seorang pedagang.
Namun, pasca pengungkapan gudang rokok ilegal, pasokan dinilai semakin tersendat.
Sebagian pedagang menduga pemasok ketakutan, sementara lainnya menyebut ada pemasok yang sudah diamankan aparat.
“Sales sekarang tidak tetap. Kadang ada, kadang hilang. Mungkin mereka takut,” tukas Rudi, pedagang di Soebrantas.
Meski masih ada pasokan yang masuk sesekali, volumenya jauh menurun dan cepat habis. Kondisi ini memaksa banyak warung kembali bergantung pada rokok resmi, meski dengan keuntungan yang jauh lebih kecil.