PEKANBARU - Ancaman mematikan dari penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kota Pekanbaru ternyata jauh lebih gawat dari sekadar angka di atas kertas.
Diskes Kota Pekanbaru kini membunyikan alarm kewaspadaan keras, mengingat data kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan diprediksi hanyalah puncak dari fenomena gunung es.
Hingga September 2026, tercatat sebanyak 95 warga Pekanbaru terinfeksi kasus HIV baru, disusul 42 pasien yang telah masuk ke fase AIDS.
Jika dilihat sekilas, angka ini tampak belum menyamai ledakan kasus pada tahun 2025 lalu yang menembus 437 kasus HIV dan 176 AIDS.
Namun, penurunan semu ini justru mengindikasikan adanya ribuan pengidap tanpa gejala yang bebas berkeliaran dan berpotensi menularkan virus tanpa disadari.
"Untuk kasus HIV/AIDS ini dengan potensi risiko, jumlahnya bisa lebih besar, layaknya fenomena gunung es," tegas Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, Jumat (4/9/2026).
Merespons situasi yang butuh penanganan ekstra cepat ini, Diskes bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pekanbaru merombak strategi pencegahan mereka.
Radar penelusuran kini tidak lagi hanya difokuskan pada kelompok risiko tinggi seperti pekerja seks komersial (PSK) atau pengguna narkoba suntik.
Kelompok intelektual muda kini juga masuk dalam bidikan utama.
"Untuk ke depan bukan hanya kita gelar edukasi ke sekolah, tapi kita ke perguruan tinggi," paparnya
Lebih lanjut, Dedy menekankan, langkah yang diambil tidak akan sebatas imbauan atau edukasi di mimbar kelas.
Diskes Pekanbaru akan melakukan aksi screening (pemeriksaan dini) secara agresif di sejumlah lokasi yang dipetakan rawan menjadi titik penularan baru.
Untuk memastikan masyarakat tidak kesulitan mengakses layanan pemeriksaan, Pemerintah Kota Pekanbaru telah menyebar layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) secara masif di seluruh penjuru kota.
Saat ini, warga Pekanbaru bisa melakukan deteksi dini HIV secara rahasia dan aman di 29 Rumah Sakit dan 21 Puskesmas.
Layanan ini juga diperluas ke berbagai fasilitas spesifik, meliputi satu klinik swasta, satu Balai Kesehatan Kerja (BKK), empat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), dan satu Rumah Tahanan (Rutan).
Bagi pasien yang terdiagnosis positif, Pekanbaru juga telah menyiagakan 31 titik layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).
Guna memantau jumlah virus dalam darah (Viral Load/VL) secara presisi, telah disiapkan layanan rujukan VL, termasuk satu layanan khusus pemeriksa VL menggunakan teknologi mesin Abbot mutakhir.
Dengan infrastruktur ini, pasien diharapkan bisa langsung mendapatkan obat Antiretroviral (ARV) agar virus dapat ditekan dan kualitas hidup tetap terjaga.