PEKANBARU - Kualitas udara yang kian memburuk akibat paparan kabut asap di Provinsi Riau mulai memakan banyak korban.
Sebuah anomali kesehatan terjadi pada penghujung Agustus 2026, di mana lonjakan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meroket tajam lebih dari tiga kali lipat hanya dalam kurun waktu lima hari.
Hingga 26 Agustus 2026, Diskes Provinsi Riau mencatat angka ISPA berada di level 1.960 kasus. Namun, ledakan pasien terjadi pada rentang 27 hingga 31 Agustus.
Dalam lima hari krusial tersebut, terdapat tambahan 4.642 orang yang mendadak jatuh sakit, membuat total kumulatif menembus angka 6.602 kasus di 12 kabupaten/kota.
Di hari terakhir Agustus saja, tercatat 915 warga Riau tumbang secara bersamaan. Kota Pekanbaru resmi menjadi episentrum krisis udara ini.
Menariknya, di tengah grafik ledakan pasien yang sangat tajam ini, otoritas kesehatan setempat menilai kondisi tersebut belum masuk tahap mengkhawatirkan.
Kadiskes Riau, Zulkifli mengklaim, perkembangan kasus sejauh ini belum menunjukkan eskalasi yang signifikan.
Meski demikian, langkah kontradiktif tetap diambil. Diskes Riau secara diam-diam telah menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk memberlakukan status siaga satu dengan menyiagakan tabung oksigen murni.
"Di Puskesmas sudah ada tim layanan *emergency*. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas," ungkap Zulkifli, Jumat (4/9/2026).
Dari total 6.602 kasus yang terdata sejak 19-31 Agustus 2026, penyebaran penyakit tidak terjadi secara merata. Kota Pekanbaru memimpin klasemen kelam ini, disusul oleh Kabupaten Pelalawan.
Sebaran lima wilayah dengan beban kasus ISPA tertinggi di Riau meliputi Pekanbaru 1.674 kasus, Pelalawan 996 kasus, Kampar 731 kasus, Siak 674 kasus dan Kuansing 549 kasus.
Lonjakan ribuan kasus dalam sepekan terakhir membuktikan bahwa paparan partikel asap tidak bisa dianggap remeh.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak tertipu oleh ruang tertutup. Pasalnya, saat kabut asap menebal, sirkulasi udara di dalam rumah justru bisa menjadi perangkap mematikan jika ventilasi tidak segera ditutup rapat.
Zulkifli menekankan, kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan penderita asma berada di garis depan risiko fatalitas.
"Agar tidak terjadi peningkatan kasus, kami terus mengedepankan langkah preventif dengan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar," pungkasnya.