PEKANBARU – Sebaran titik panas (hotspot) di Sumatera mencapai 2.731 titik pada Jumat (16/10/2026) sore.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 2.323 titik atau sekitar 85 persen dari total yang terdeteksi di pulau tersebut.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine mengatakan, hotspot juga terpantau di sejumlah provinsi lain, termasuk Riau yang mencatat sembilan titik.
"Hotspot di Riau tersebar di lima kabupaten/kota. Bengkalis mencatat tiga titik, Kampar dua titik, Siak dua titik, Dumai satu titik, dan Pelalawan satu titik," kata Mari.
Meski jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Selatan, temuan hotspot di Riau tetap perlu diwaspadai.
Pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah titik panas tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hotspot merupakan indikasi awal yang terdeteksi melalui pemantauan satelit, bukan bukti pasti terjadinya kebakaran.
Karena itu, verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Sementara itu, provinsi lain yang mencatat hotspot meliputi Jambi sebanyak 184 titik, Kepulauan Bangka Belitung 100 titik, Lampung 91 titik, Bengkulu 16 titik, Aceh tiga titik, Sumatera Barat tiga titik, serta Kepulauan Riau dua titik.
Besarnya konsentrasi hotspot di Sumatera Selatan menjadi perhatian dalam pemantauan karhutla regional.
Namun, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan tingkat keparahan kebakaran maupun dampak asap terhadap kualitas udara di setiap daerah.
Masyarakat dan pemerintah daerah perlu mencermati perkembangan titik panas, terutama di wilayah yang terdeteksi, sembari menunggu hasil verifikasi petugas di lapangan.