PEKANBARU – Aktivitas titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 121 titik pada Kamis (5/11/2026) sore.
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau mencatat tiga hotspot yang tersebar di Kabupaten Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hilir.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menunjukkan, jumlah hotspot di Riau relatif kecil dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera.
Meski demikian, keberadaan titik panas di tiga kabupaten tersebut tetap menjadi indikator yang perlu diperhatikan dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir, menyampaikan bahwa total hotspot di Sumatera pada sore hari mencapai 121 titik.
“Untuk wilayah Riau terpantau tiga titik panas,” tutur Yasir.
Ketiga hotspot di Riau masing-masing terdeteksi satu titik di Kabupaten Siak, satu titik di Kabupaten Pelalawan, dan satu titik di Kabupaten Indragiri Hilir.
Sementara itu, sebaran hotspot di provinsi lain menunjukkan konsentrasi yang lebih besar.
Jambi menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 49 titik, disusul Lampung dengan 34 titik dan Sumatera Selatan sebanyak 25 titik.
Aceh tercatat lima hotspot, Bangka Belitung tiga titik, Sumatera Barat satu titik, serta Kepulauan Riau satu titik.
Dominasi hotspot di Jambi dan Lampung memperlihatkan bahwa aktivitas titik panas di Sumatera tidak hanya terkonsentrasi pada satu wilayah.
Kedua provinsi tersebut menyumbang 83 titik atau lebih dari separuh total hotspot yang terpantau.
Adapun Sumatera Selatan menyumbang 25 titik panas, sedangkan provinsi lainnya mencatat jumlah yang lebih terbatas.
BMKG mengidentifikasi hotspot melalui pemantauan satelit. Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta memastikan terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena perlu verifikasi lebih lanjut di lapangan.
Di Riau, tiga hotspot yang tersebar di Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hilir menjadi bagian dari pemantauan kondisi lingkungan dan potensi karhutla.