PEKANBARU - Sebaran titik panas atau *hotspot* di Sumatera pada Kamis (8/10/2026) sore mencapai 2.828 titik.
Namun, kondisi di Riau relatif jauh lebih terkendali dengan hanya 7 hotspot, sementara konsentrasi terbesar justru berada di Sumsel yang mencapai 2.330 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia, mengatakan ribuan hotspot tersebut tersebar di sejumlah provinsi di Sumatera.
Dominasi Sumsel menjadi perhatian karena jumlahnya jauh melampaui provinsi lain.
"Total titik panas wilayah Sumatera Kamis sore ada 2.828 titik," ujar Bella.
Berdasarkan pemantauan BMKG, Sumsel menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling tinggi, yakni 2.330 titik.
Setelah itu terdapat Lampung dengan 198 titik, Babel 160 titik, dan Jambi sebanyak 128 titik.
Sementara itu, hotspot di sejumlah wilayah lainnya relatif rendah. Bengkulu tercatat satu titik, Sumbar tiga titik, serta Sumut satu titik.
Di tengah tingginya jumlah hotspot di sejumlah provinsi, kondisi Riau tercatat jauh lebih rendah. BMKG mendeteksi 7 titik panas yang tersebar di lima kabupaten.
Kampar dan Kuansing masing-masing memiliki hotspot terbanyak di Riau, dengan masing-masing satu dan dua titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa hotspot di Riau saat ini tidak terkonsentrasi dalam jumlah besar pada satu wilayah.
Meski demikian, keberadaan titik panas tetap perlu dipantau karena perubahan cuaca dan kondisi lahan dapat memengaruhi perkembangan kebakaran hutan dan lahan.
Dari total 2.828 hotspot di Sumatera, hanya tujuh yang terdeteksi di Riau.
Artinya, kontribusi Riau terhadap keseluruhan hotspot Sumatera pada pemantauan Kamis sore masih sangat kecil dibandingkan provinsi dengan jumlah tertinggi.
Perbedaan tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan hotspot di Sumatera saat ini tidak merata.
Sumsel menjadi titik konsentrasi utama, sedangkan Riau berada pada level yang jauh lebih rendah.
Meski angka Riau relatif kecil, pemantauan tetap penting dilakukan, khususnya pada daerah yang terdeteksi memiliki hotspot seperti Kampar, Kuansing, Pelalawan, Inhil dan Inhu.
Keberadaan satu atau dua titik panas tetap dapat menjadi indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran lahan atau aktivitas lain.
BMKG sendiri terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot sebagai bagian dari informasi cuaca dan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera.