PELALAWAN - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Air Kuning, Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.
Memasuki Rabu (9/9/2026), penanganan kebakaran di lahan gambut seluas kurang lebih 1.109,46 hektare tersebut telah memasuki tahap mopping up. Tahapan ini meliputi pembasahan dan pendinginan secara menyeluruh untuk memastikan bara api di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran.
Dalam operasi tersebut, perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sari Lembah Subur (SLS) turut memperkuat personel tim gabungan dengan mengerahkan 10 anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) internal.
Personel RPK PT SLS bergabung bersama jajaran Polsek dan Polres Pelalawan serta sejumlah perusahaan di wilayah Kerumutan untuk melakukan pemadaman dan pembasahan di lokasi kebakaran.
Lokasi kebakaran berada di luar wilayah operasional PT SLS dengan jarak sekitar 7,5 kilometer dari area operasional perusahaan. Meski demikian, perusahaan tetap mengerahkan personel dan peralatan yang dimiliki untuk membantu penanganan karhutla sesuai kebutuhan di lapangan.
Untuk mendukung operasi pemadaman, PT SLS menurunkan sejumlah peralatan, di antaranya pompa Ministrike, pompa Koshin, 12 gulung selang pemadam, tiga nozzle TFT, serta delapan unit handy talky (HT). Seluruh personel dan peralatan tersebut dimobilisasi menggunakan kendaraan Hilux Fire menuju lokasi kebakaran.
Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan. Karakteristik gambut memungkinkan bara api tersimpan di bawah permukaan sehingga pembasahan dan pemantauan harus dilakukan secara menyeluruh.
Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi turut membantu tim gabungan dalam menjalankan proses mopping up dan memastikan area yang telah terbakar tidak kembali memunculkan titik api.
Community Development Officer (CDO) PT SLS, Ginanjar Maolid, mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari upaya bersama dalam membantu penanganan karhutla, termasuk pada lokasi yang berada di luar wilayah operasional perusahaan.
“Ketika ada laporan karhutla di luar wilayah perusahaan, kami terus berupaya membantu sesuai kapasitas yang kami miliki. Personel dan peralatan kami kerahkan untuk memperkuat tim gabungan di lapangan. Yang terpenting adalah bagaimana api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas,” ujar Ginanjar.
Menurut dia, penanganan karhutla tidak berhenti ketika api sudah terlihat padam. Khusus di lahan gambut, pembasahan dan pemantauan secara berkelanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali memicu kebakaran.
Keterlibatan PT SLS dalam operasi penanganan karhutla tersebut mendapat apresiasi dari berbagai unsur dan masyarakat di Kerumutan. Sebelumnya, perusahaan juga beberapa kali mengerahkan RPK untuk membantu penanganan kebakaran lahan di sekitar wilayah tersebut.
Pada Juli 2026, misalnya, tim RPK PT SLS turut membantu pemadaman kebakaran lahan di Dusun Pematang Tengah, Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan.
Kebakaran tersebut terjadi di lahan gambut yang berada di luar wilayah operasional perusahaan dengan jarak sekitar lima kilometer dari area operasional PT SLS.
Selain melakukan respons langsung ketika terjadi kebakaran, PT SLS juga membangun kesiapsiagaan melalui berbagai langkah pencegahan sebelum memasuki periode dengan risiko kebakaran tinggi.
Langkah tersebut dilakukan dengan memperkuat kesiapan RPK dan sarana-prasarana pemadaman, melaksanakan patroli dan pemantauan wilayah, serta meningkatkan koordinasi dengan aparat dan para pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Upaya pencegahan juga melibatkan masyarakat melalui penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA), edukasi dan pelatihan pemadaman, serta berbagai kegiatan bersama masyarakat dan pemuda untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan PT SLS yang menempatkan pencegahan dan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam pengendalian karhutla.
Dengan kesiapan personel dan sarana pemadaman yang telah dibangun, sumber daya perusahaan dapat segera dimobilisasi ketika terjadi kebakaran, termasuk untuk membantu penanganan di lokasi yang berada di luar wilayah operasional.
PT SLS memandang ancaman karhutla sebagai persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari mendeteksi potensi kebakaran, melakukan pemadaman, hingga mencegah terjadinya kebakaran berulang.
Melalui kesiapan personel, sarana pemadaman, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, PT Sari Lembah Subur terus mengambil bagian dalam upaya menjaga lingkungan serta mendukung keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Sejalan dengan semangat “Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia”, PT SLS terus memperkuat kesiapsiagaan dan kolaborasi dalam pencegahan serta penanganan karhutla, termasuk membantu upaya pemadaman di wilayah sekitar ketika dibutuhkan.(*)