PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau telah membakar area seluas 16.264,84 hektare.
Dari total tersebut, Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menjadi dua daerah dengan kontribusi luasan terbesar.
Berdasarkan laporan harian hotspot dan luas lahan terbakar per Jumat (21/8/2026), Bengkalis mencatat area terdampak paling luas, yakni 8.407,40 hektare. Angka tersebut disertai 3.880 hotspot yang terpantau BMKG dan 54 fire spot.
Pelalawan berada di posisi berikutnya dengan luasan mencapai 4.629,39 hektare, berdasarkan 2.563 hotspot BMKG dan 25 fire spot. Luasan di wilayah Pelalawan tersebut masih dalam proses penghitungan.
Jika kedua kabupaten digabungkan, luas lahan terbakar mencapai 13.036,79 hektare. Jumlah itu setara sekitar 80 persen dari keseluruhan luasan karhutla yang tercatat di Riau.
Karhutla juga tercatat di sejumlah kabupaten dan kota lainnya. Inhil mencatat luasan 872,02 hektare, disusul Dumai 556,01 hektare dan Inhu 535,22 hektare.
Selanjutnya, luas lahan terbakar tercatat di Rohil 452,53 hektare, Siak 314,77 hektare, Kepulauan Meranti 202,42 hektare, Kampar 126,46 hektare, Kuansing 68,98 hektare, Pekanbaru 67,18 hektare, serta Rohul 32,46 hektare.
Kalaksa BPBD Riau, Edy Afrizal mengatakan, kondisi di sebagian besar lokasi mulai terkendali. Tim di lapangan masih melakukan pendinginan untuk memastikan bara tidak kembali memicu kebakaran.
“Yang agak besar di Kerumutan. Yang lainnya sudah tinggal asap-asap tipis dan lagi dilakukan pendinginan,” kata Edy, Sabtu (22/8/2026).
Di tengah upaya pengendalian, kawasan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, masih menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian.
Kondisi kebakaran di kawasan tersebut dinilai relatif lebih besar dibandingkan sejumlah titik lainnya.
Edy menjelaskan, proses pemadaman tidak selalu mudah karena karakteristik lokasi dan kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi personel.
“Akses sulit, sumber air minim, bahan bakar potensial banyak, angin kencang,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang, terutama ketika api berada di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan maupun personel.
Selain Kerumutan, operasi penanganan karhutla juga berlangsung di Rimbo Panjang dan Tapung, Kabupaten Kampar, serta Tenayan Raya, Kota Pekanbaru.
Dalam laporan tersebut, jumlah hotspot BMKG di Riau secara kumulatif mencapai 10.242 titik.
Sementara fire spot tercatat sebanyak 509 titik, dengan total luasan lahan terbakar mencapai 16.264,84 hektare.
Pada tambahan laporan harian, terdapat 72 hotspot BMKG dengan tambahan luasan terbakar sekitar 9,27 hektare.
Dari penanganan lapangan, sebanyak 18 titik telah dilakukan pendinginan, sedangkan 10 titik lainnya dinyatakan padam.
Upaya pengendalian melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga masyarakat setempat.
Besarnya luasan karhutla di Riau menunjukkan bahwa tantangan penanganan tidak hanya terletak pada pemadaman api terbuka.
Setelah api berhasil dikendalikan, proses pendinginan menjadi tahap penting untuk mencegah munculnya kembali titik api dari bara yang masih tersisa.