PEKANBARU – Kepergian Jovi bukan sekadar kehilangan seekor gajah binaan. Bagi dunia konservasi di Riau, kematian gajah jantan berusia 46 tahun itu menandai berakhirnya pengabdian panjang seekor satwa yang selama hampir tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya meredam konflik antara manusia dan gajah liar.
Jovi mengembuskan napas terakhir di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Senin (3/8/2026) malam.
Ia sebelumnya menjalani perawatan intensif setelah mengalami infeksi berat yang menyerang tubuhnya sejak 1 Juli 2026.
Selama hidupnya, Jovi dikenal sebagai salah satu gajah binaan senior dengan pengalaman panjang dalam penanganan konflik satwa liar di Provinsi Riau.
Ia pertama kali dievakuasi dari wilayah Indragiri Hulu dan kemudian bergabung dengan PLG Minas pada 18 Februari 1998.
Sejak saat itu, perjalanan Jovi tidak hanya berlangsung di kawasan konservasi. Ia juga menjadi bagian dari berbagai operasi penanganan konflik ketika kawanan gajah liar mendekati permukiman atau memasuki kawasan perkebunan milik masyarakat.
Di tengah situasi yang berpotensi membahayakan manusia dan satwa, Jovi kerap ditempatkan di garis depan.
Dengan kemampuan sebagai gajah penjinak sekaligus penggiring, ia membantu petugas mengarahkan kawanan gajah liar agar menjauh dari wilayah yang berisiko menimbulkan konflik.
Keistimewaan Jovi terletak pada ketenangan dan wibawanya ketika berhadapan dengan gajah liar. Kehadirannya menjadi jembatan komunikasi alami antarsesama gajah, sehingga kawanan yang berada dalam kondisi panik dapat diarahkan kembali menuju habitatnya tanpa harus menggunakan tindakan kekerasan.
Peran tersebut membuat Jovi mendapat tempat khusus di hati para mahout atau pawang gajah serta petugas konservasi yang selama bertahun-tahun bekerja bersamanya.
Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin mengenang Jovi sebagai sosok penting yang memiliki kontribusi besar dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar di Riau.
"Selama lebih dari dua dekade, Jovi memegang peran vital dalam mitigasi konflik. Kehadirannya selalu menjadi solusi penengah di lapangan," kata Ujang, Selasa (4/8/2026).
Pengabdian panjang Jovi dinilai telah memberikan manfaat besar bagi upaya perlindungan masyarakat sekaligus keselamatan gajah liar.
Dalam berbagai situasi konflik, keberadaannya membantu menciptakan ruang penyelesaian yang lebih aman bagi kedua pihak.
Namun, perjuangan Jovi tidak berhenti ketika usianya semakin tua. Pada masa terakhir kehidupannya, gajah veteran tersebut kembali menunjukkan daya tahan yang luar biasa.
Ujang mengatakan, Jovi tetap berusaha bertahan meski mengalami infeksi berat dan harus mendapatkan perawatan intensif dari tim medis serta para mahout.
"Ketika diserang infeksi berat sejak 1 Juli 2026, Jovi tetap menunjukkan daya juang yang luar biasa untuk terus bertahan hidup di bawah perawatan intensif tim medis dan mahout yang mendampinginya selama 24 jam nonstop," ujarnya.
Dalam kondisi yang semakin menurun, Jovi masih berupaya untuk berdiri dan mengonsumsi pakan yang diberikan oleh para perawatnya. Akan tetapi, kondisi kesehatannya terus memburuk akibat komplikasi infeksi dan kelumpuhan otot berat atau myopathy.
"Komplikasi infeksi serta kelumpuhan otot berat (myopathy) pada tubuh rentanya memaksa Jovi menyudahi perjuangannya pada Senin (3/8/2026) malam," jelas Ujang.
Kepergian Jovi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar PLG Minas, para mahout, petugas konservasi, serta masyarakat yang mengenal kiprahnya dalam menjaga harmoni antara manusia dan satwa liar.
Lebih dari sekadar gajah binaan, Jovi telah menjadi bagian dari perjalanan panjang konservasi di Riau.
Selama sekitar 28 tahun berada di bawah pengelolaan PLG Minas, ia menjalankan peran yang tidak mudah, membantu mengurangi konflik, mengarahkan gajah liar kembali ke habitatnya, sekaligus menjadi simbol pendekatan konservasi yang mengedepankan keselamatan manusia dan satwa.
BBKSDA Riau pun menyampaikan penghargaan kepada tim medis dan para mahout yang telah memberikan pendampingan hingga penghujung kehidupan Jovi.
Kini, Jovi memang telah pergi. Namun, jejak pengabdiannya sebagai "diplomat rimba" diyakini akan tetap menjadi bagian dari sejarah konservasi Riau, sebuah kisah tentang seekor gajah yang selama puluhan tahun membantu menjaga jarak antara konflik dan perdamaian di tengah bentang alam Sumatra.