PEKANBARU - Sebaran titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali terpantau pada Minggu (19/7/2026) sore.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, jumlah hotspot mencapai 267 titik, dengan konsentrasi terbanyak berada di Sumatera Selatan.
Sementara itu, Provinsi Riau mencatat 6 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten, sehingga tetap menjadi wilayah yang perlu dipantau untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan satelit hingga Minggu sore, sebanyak 267 titik panas terdeteksi di seluruh Pulau Sumatera.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Minggu sore terpantau sebanyak 267 titik," ujar Anggun.
Dari total tersebut, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 90 titik, disusul Aceh sebanyak 54 titik, Bangka Belitung 52 titik, Jambi 23 titik, Lampung 20 titik, Bengkulu 10 titik, Sumatera Barat 8 titik, Riau 6 titik, Kepulauan Riau 3 titik, serta Sumatera Utara 1 titik.
Di Provinsi Riau sendiri, titik panas tersebar di sejumlah wilayah. Kabupaten Kuantan Singingi menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
"Sebaran hotspot di Riau terpantau berada di Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir," jelas Anggun.
BMKG mengingatkan, keberadaan hotspot merupakan indikator awal yang perlu dipantau secara berkelanjutan.
Titik panas belum tentu menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan, namun dapat menjadi sinyal adanya peningkatan suhu permukaan yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila didukung kondisi cuaca yang kering.
Data hotspot ini menjadi salah satu acuan bagi instansi terkait untuk melakukan pemantauan lapangan serta langkah antisipasi dini dalam upaya mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera, khususnya di Provinsi Riau.