PEKANBARU - Pemantauan satelit terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera menunjukkan jumlah titik panas masih berada pada level yang relatif terkendali.
Hingga Minggu (21/6/2026) pagi, total hotspot yang terdeteksi di seluruh Sumatera mencapai 69 titik.
Data tersebut disampaikan Forecaster On Duty Pekanbaru, Anggun, berdasarkan hasil monitoring terbaru terhadap sebaran hotspot di sejumlah provinsi di Sumatera.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera pada Minggu, 21 Juni 2026, tercatat sebanyak 69 titik, dengan sebaran di beberapa provinsi, termasuk Riau sebanyak tiga titik panas," ujar Anggun.
Dari total tersebut, Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 25 titik.
Posisi berikutnya ditempati Kepulauan Bangka Belitung dengan 21 titik panas, disusul Sumatera Barat sebanyak sembilan titik.
Sementara itu, beberapa provinsi lainnya mencatat jumlah hotspot yang lebih rendah, yakni Bengkulu empat titik, Jambi tiga titik, Lampung tiga titik, serta Aceh satu titik.
Untuk Provinsi Riau, jumlah hotspot yang terpantau hanya tiga titik. Sebanyak dua titik berada di Kabupaten Pelalawan dan satu titik lainnya terdeteksi di Kabupaten Kuansing.
Rendahnya jumlah hotspot di Riau menjadi indikator bahwa kondisi potensi karhutla masih berada dalam kategori relatif terkendali.
Meski demikian, pemantauan terus dilakukan mengingat sebagian wilayah Riau mulai memasuki periode cuaca yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Sebaran hotspot menjadi salah satu parameter penting dalam sistem peringatan dini karhutla.
Data ini digunakan untuk membantu pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta tim penanggulangan bencana dalam melakukan langkah antisipasi sebelum kebakaran meluas.
Dengan kondisi tersebut, kewaspadaan terhadap ancaman karhutla tetap diperlukan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan rawan terbakar saat curah hujan mulai berkurang.