PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi sebanyak 52 titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera pada Jumat (19/6/2026). Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau tercatat memiliki satu titik panas yang terpantau berada di wilayah Kota Dumai.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Bella R. Adelia, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan satelit, titik panas paling banyak ditemukan di Provinsi Sumatera Selatan.
"Berdasarkan pantauan satelit pada Jumat, 19 Juni 2026, total terdapat 52 titik panas di wilayah Sumatera. Sebarannya meliputi Sumatera Selatan 35 titik, Lampung 4 titik, Jambi 3 titik, Aceh 3 titik, Bengkulu 2 titik, Sumatera Barat 2 titik, Kepulauan Bangka Belitung 2 titik, dan Riau 1 titik yang berada di Kota Dumai," kata Bella.
Dominasi titik panas di Sumatera Selatan menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Pulau Sumatera selama musim kemarau berlangsung.
Meski hanya terdeteksi satu titik panas di Riau, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena sebagian besar wilayah provinsi ini sedang menghadapi risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Di Provinsi Riau terpantau satu titik panas yang berada di wilayah Kota Dumai," ujar Bella.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau, sebanyak 11 dari 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.
Penetapan status siaga tersebut dilakukan untuk memperkuat upaya pencegahan, patroli, serta penanganan dini apabila terjadi kebakaran di lapangan.
Ancaman karhutla di Riau tahun ini juga tergolong serius. Hingga pertengahan Juni 2026, luas lahan yang terbakar di berbagai daerah di Riau dilaporkan telah mencapai lebih dari 15.000 hektare.
Kondisi tersebut membuat seluruh pihak terkait terus meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut dan rawan terbakar saat curah hujan mulai berkurang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran guna mencegah meluasnya dampak karhutla di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.