PEKANBARU - Anggota DPRD Provinsi Riau, Edi Basri meminta, persoalan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Provinsi sepanjang 2026 ini jadi catatan dan evaluasi bersama oleh semua pihak.
Pasalnya, keberhasilan penanganan Karhutla tidak hanya sebatas memadamkan api tetapi juga bagaimana kemampuan mencegah kebakaran meluas serta melindungi masyarakat dari paparan asap.
Untuk diketahui, Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau secara akumulatif mencapai 15.608,37 hektare sejak 1 Januari hingga 9 Agustus 2026.
"Persoalan Karhutla saat ini tentunya sudah menjadi isu nasional yang perlu menjadi catatan dan evaluasi bersama. Kita tidak ingin persoalan karhutla terulang setiap tahunnya," ungkap Edi Basri, Kamis (22/10/2026)
Politisi Gerindra itu menilai, persoalan Karhutla disebabkan berbagai alasan seperti cuaca ekstrem, kemarau panjang, fenomena El Nino, hingga sulitnya medan pemadaman tidak boleh mengesampingkan persoalan mendasar, yakni kesiapan pemerintah dalam mencegah dan menangani karhutla.
"Memang klau kita lihat tahun ini, fenomena El Nino terjadi jauh lebih panjang dibanding tahun sebelumnya," ucapnya.
"Makanya kondisi kekeringan yang terjadi menjadi salah satu penyebab terjadinya Karhutla lebih besar," tambahnya.
Sementara terkait adanya kritikan tajam dari kalangan mahasiswa yang meminta agar Menteri Kehutanan dipecat dari jabatannya karena tidak mampu menjalankan tanggung menjaga kelestarian dan potensi hutan.
Ia menilai hal tersebut hal yang wajar sepanjang dalih yang disampaikan mendorong kinerja yang lebih baik.
"Kalau menurut kita untuk memecat dan dipecat itukan tergantung otoritas presiden, tetapi kalau aspirasinya dengan dalil evaluasi, mendorong kinerja sah-sah saja," ujarnya.
Pihaknya sepakat, dengan persoalan Karhutla yang terjadi saat ini perlu dilakukan perbaikan kinerja yang lebih baik.
"Bahkan dengan adanya persoalan saat ini kita juga mendorong semangat dan kemampuan untuk bekerja, tapi kalau kiranya tidak mampu tentu dicarikan yang mampu, karena persoalan kehutanan ini memang berat," pungkasnya.