PEKANBARU - Lebih dari satu dekade bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan, Rasman telah menghadapi berbagai situasi berbahaya. Salah satunya ketika perubahan arah angin membuat asap tebal mengepung timnya. Di tengah risiko pekerjaan, keselamatan rekan-rekan dan keluarga yang menunggu di rumah selalu menjadi perhatian.
Rasman masih mengingat bagaimana perubahan arah angin secara tiba-tiba membuat asap tebal bergerak menuju lokasi tempat ia dan rekan-rekannya bekerja. Saat itu, mereka sedang melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dalam waktu singkat, kondisi yang semula memungkinkan tim bekerja berubah menjadi situasi berbahaya.
Asap yang semakin pekat membatasi pandangan. Rasman segera bergerak mengejar rekan-rekannya sambil berteriak memperingatkan mereka agar meninggalkan lokasi dan menyelamatkan diri. Dalam situasi seperti itu, keterlambatan mengambil keputusan dapat membahayakan keselamatan petugas.
"Saya dan tim terkepung asap tebal karena perubahan arah angin. Demi keselamatan, saya segera berlari mengejar kawan-kawan sambil berteriak agar segera menyelamatkan diri," tutur Rasman.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu peristiwa yang membekas bagi Rasman (35), anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi, salah satu unit usaha APP Group di Riau. Sejak bergabung pada 2013, ia telah menghadapi berbagai kondisi lapangan hingga kemudian dipercaya menjadi bagian dari Tim Reaksi Cepat (TRC).
Bekerja sebagai petugas pemadam karhutla selama lebih dari satu dekade membuat Rasman memahami bahwa setiap kebakaran memiliki tantangan berbeda. Kondisi cuaca, arah angin, medan, dan ketebalan asap dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, pengalaman panjang sekalipun tidak membuat pekerjaan tersebut terbebas dari risiko.
Ketika Keselamatan Tim Menjadi Prioritas
Bagi Rasman, pekerjaan pemadaman bukan sekadar mengarahkan air ke titik api. Petugas juga harus memperhatikan kondisi sekitar, menjaga koordinasi antarrekan, serta memastikan bahwa upaya mengendalikan kebakaran tidak justru membahayakan keselamatan anggota tim.
Pengalaman di Rokan Hilir menjadi pengingat bahwa perubahan arah angin dapat membuat situasi di lapangan berkembang dengan cepat. Ketika asap bergerak menuju lokasi pemadaman, jarak pandang dapat berkurang dan petugas harus segera mengambil tindakan untuk menghindari area berbahaya.
Dalam kejadian tersebut, Rasman tidak hanya berusaha menyelamatkan dirinya. Ia juga berlari sambil memperingatkan rekan-rekannya agar segera menjauh. Tindakan itu dilakukan karena ia menyadari bahwa keselamatan seluruh anggota tim merupakan bagian penting dari pekerjaan yang sedang mereka jalankan.
Sebagai anggota Tim Reaksi Cepat, Rasman juga harus siap menghadapi penugasan yang datang sewaktu-waktu. Kebakaran tidak selalu terjadi di lokasi yang mudah dijangkau, sementara proses penanganannya dapat berlangsung berhari-hari, bahkan lebih lama, bergantung pada kondisi lapangan.
Ada kalanya penugasan dilakukan jauh dari permukiman sehingga petugas menghadapi keterbatasan jaringan telekomunikasi. Dalam keadaan seperti itu, komunikasi dengan keluarga menjadi sulit, terutama ketika pekerjaan belum memungkinkan mereka meninggalkan lokasi pemadaman.
Pengalaman panjang tersebut membuat Rasman semakin memahami pentingnya kewaspadaan dan kerja sama tim. Baginya, keberhasilan pemadaman tidak cukup hanya dilihat dari api yang berhasil dikendalikan, tetapi juga dari kemampuan seluruh petugas menyelesaikan pekerjaan dengan selamat.
Di Rumah, Ada Keluarga yang Memahami Risiko
Di luar pekerjaannya sebagai anggota RPK, Rasman merupakan seorang suami dan ayah. Di rumah, Siti Nuraminah (35), istrinya, telah lama memahami bahwa pekerjaan tersebut mengharuskan Rasman siap menerima penugasan kapan saja.
Sejak sebelum menikah, Nuraminah sudah mengetahui bahwa Rasman bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran perusahaan. Ia memahami konsekuensinya, termasuk kemungkinan suami harus meninggalkan keluarga dalam waktu lama ketika kebakaran membutuhkan penanganan.
Namun, pemahaman itu tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran. Terlebih ketika Rasman berada di lokasi yang sulit mendapatkan sinyal dan keluarga tidak dapat mengetahui secara langsung bagaimana kondisinya.
Nuraminah pernah mengalami keadaan ketika suaminya harus berangkat mendadak untuk menjalankan tugas pemadaman. Saat itu, anak-anak mereka masih kecil dan membutuhkan perhatian orang tua. Ia kemudian tinggal sementara bersama anak-anak di rumah orang tuanya di Muara Pajar, Pekanbaru, agar mendapat pendampingan keluarga selama Rasman bertugas.
Bagi Nuraminah, menjalani kehidupan keluarga dengan pekerjaan suami yang penuh risiko membutuhkan pengertian dan kesiapan menghadapi berbagai keadaan. Ada kalanya ia harus mengurus anak-anak dan kebutuhan rumah tangga ketika Rasman belum dapat pulang.
Meski demikian, ia merasa bangga terhadap pekerjaan suaminya. Menurut Nuraminah, upaya memadamkan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat karena dapat membantu mencegah meluasnya kebakaran dan dampak kabut asap.
"Bagi saya, itu adalah bagian dari ibadah, karena memadamkan karhutla agar tidak menimbulkan kabut asap adalah bagian dari ibadah," ungkap Nuraminah.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam kehidupan Rasman. Di satu sisi, ia harus menjalankan tanggung jawab sebagai petugas yang bekerja menghadapi berbagai risiko. Di sisi lain, ada istri dan anak-anak yang membutuhkan kehadirannya di rumah.
Situasi tersebut membuat keselamatan bukan hanya persoalan pribadi. Setiap keputusan yang diambil di lapangan juga memiliki arti bagi keluarga yang menunggu kepulangannya.
Pengalaman hampir terkepung asap di Rokan Hilir menjadi salah satu pengingat tentang hal itu. Rasman harus tetap waspada terhadap perubahan kondisi dan memperhatikan keselamatan rekan-rekan yang bekerja bersamanya.
Setelah lebih dari satu dekade menjadi anggota RPK, Rasman telah melewati berbagai penugasan yang mengharuskannya bekerja jauh dari keluarga. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai tanggung jawab, kerja sama, dan pentingnya saling menjaga di tengah situasi berbahaya.
Sementara itu, bagi Nuraminah, dukungan kepada suami tidak berarti mengabaikan rasa khawatir. Ia memahami pekerjaan Rasman dan menghargai tanggung jawab yang dijalankannya, tetapi tetap berharap setiap penugasan berakhir dengan baik.
Bagi Rasman, api yang berhasil dipadamkan menjadi bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Namun, di balik setiap penugasan, ada hal yang tidak kalah penting: memastikan rekan-rekannya selamat dan dirinya bisa kembali berkumpul bersama keluarga.(*)