PEKANBARU - Limbah cangkang kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Riau berhasil disulap menjadi material konstruksi ramah lingkungan oleh tim mahasiswa Universitas Riau (Unri).
Melalui program Pekan Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), mahasiswa Unri mengembangkan bata ringan Cellular Lightweight Concrete (CLC) berbasis biochar dari limbah cangkang kelapa sawit.
Inovasi tersebut tidak hanya menawarkan alternatif material bangunan, tetapi juga menjadi solusi terhadap dua persoalan lingkungan sekaligus, yakni tingginya emisi karbon dari industri semen dan melimpahnya limbah cangkang kelapa sawit di Provinsi Riau.
Riset ini digagas Ikhsan Ridho Pangestu dan Sergio Agustomando S. dari Program Studi Teknik Sipil, serta Risky Ananda Irsyana yang kemudian digantikan Ahmad Yusuf dari Program Studi Teknik Kimia. Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Ir. Reni Suryanita, S.T., M.T.
Dalam penelitian ini, cangkang kelapa sawit diolah menjadi biochar melalui proses pirolisis atau pembakaran dengan minim oksigen pada suhu 450 derajat Celsius. Biochar kemudian dihaluskan dan dicampurkan ke dalam material bata ringan dengan variasi kadar antara 0 hingga 20 persen.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan biochar sebesar 10 persen menjadi formula paling optimal.
Pada komposisi tersebut, kuat tekan bata ringan meningkat dari 0,574 MPa menjadi 0,879 MPa. Selain lebih kuat, material tersebut juga memiliki kemampuan isolasi panas dan peredaman suara yang lebih baik.
Konduktivitas termal tercatat turun sebesar 31,45 persen sehingga material dinilai sesuai untuk penggunaan di wilayah beriklim tropis. Kondisi ini berpotensi membantu mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan.
Dari sisi akustik, kemampuan peredaman suara mencapai 63,92 dB pada frekuensi 1.000 Hz, dibandingkan 34,88 persen pada bata konvensional.
Yang tak kalah penting, setiap bata dengan formula tersebut diproyeksikan mampu menghemat emisi karbon dioksida sebesar 0,437 kilogram.
Ketua tim, Ikhsan, menjelaskan peningkatan kekuatan tersebut terjadi karena biochar berperan sebagai micro-filler yang mengisi rongga-rongga mikro dalam campuran semen sekaligus membantu proses internal curing melalui penyerapan dan pelepasan air secara bertahap.
Sementara itu, struktur berpori pada biochar menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan material menahan panas dan meredam suara. Udara yang terperangkap di dalam pori-pori biochar dapat menghambat rambatan panas maupun gelombang bunyi.
Potensi inovasi ini juga tidak hanya terbatas pada skala lokal. Berdasarkan data produksi bata ringan AAC dan CLC nasional pada 2023 yang mencapai 14,1 juta meter kubik, penerapan substitusi biochar sebesar 10 persen diproyeksikan dapat memangkas penggunaan semen hingga 571.050 ton.
Penerapan tersebut juga berpotensi menghindarkan emisi karbon dioksida hingga 513.945 ton per tahun.
Inovasi mahasiswa Unri ini menunjukkan bahwa limbah sektor perkebunan, khususnya cangkang kelapa sawit yang melimpah di Riau, dapat dikembangkan menjadi bahan bernilai tambah sekaligus menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan.
Pengembangan bata ringan berbasis biochar tersebut juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada sektor industri, inovasi dan infrastruktur serta penanganan perubahan iklim.
Ke depan, inovasi ini membuka peluang hilirisasi limbah kelapa sawit di Riau menjadi bahan baku industri material konstruksi yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung upaya Indonesia menuju target Net Zero Emission. (rls)