PEKANBARU – Memasuki usia emas yang ke-60, Yayasan Diniyyah Puteri Pekanbaru menggelar seminar nasional bertema "Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam untuk Indonesia Menuju Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing."
Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus Diniyyah Pekanbaru, Jalan KH Ahmad Dahlan No. 100, Kecamatan Sukajadi, dan menjadi salah satu rangkaian acara Milad yang penuh makna.
Seminar yang berlangsung meriah ini menghadirkan dua narasumber utama: Dr. Abdul Munir dan Fauziah Fauzan El Muhammady, SE, Akt, MSi, dari Perguruan Diniyyah Padang Panjang. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Bachtiar Nasution, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di dunia pendidikan Islam nasional.
Tampak hadir di tengah audiens, Penasehat Diniyyah School Development Forum Prof. Dr. Fasli Jalal, PhD, Wakil Ketua Dewan Pembina Ir. Zulkifli, Sekretaris Dewan Pembina Prof. Dr. Hj. Ellydar Chaidir, SH, MHum, serta Ketua Dewan Pengawas Prof. Dr. H. Sudi Fahmi, SH, MHum. Ketua Umum Yayasan Diniyyah, Dr. Hj. Hasnati, SH, MH.
Serta turut hadir bersama pimpinan dari berbagai cabang lembaga Diniyyah di Indonesia seperti Diniyyah Lampung dan Diniyyah Al Azhar Muara Bungo Jambi, serta para guru dan tenaga kependidikan dari seluruh unit di bawah Yayasan Diniyyah Puteri Pekanbaru.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Yayasan, Dr. Hj. Hasnati menyampaikan bahwa usia 60 tahun merupakan momen bersejarah yang sarat dengan refleksi dan harapan. Sejak berdiri pada 1 September 1965, Yayasan Diniyyah Puteri Pekanbaru telah berkembang menjadi institusi pendidikan Islam terpadu, mulai dari tingkat TK, SDIT, MTs Puteri, MA Puteri, Pondok Pesantren Puteri, hingga Perguruan Tinggi dan Pascasarjana.
“Seminar ini menjadi forum strategis untuk menggali gagasan-gagasan baru demi menghadirkan pendidikan Islam yang adaptif dan relevan di era modern. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam karakter dan daya saing global,” ujar Hasnati.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Fasli Jalal menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan Islam dalam membentuk masa depan bangsa. Ia menyoroti perlunya peningkatan kualitas pembelajaran yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembangunan karakter, spiritualitas, dan keterampilan hidup.
“Di era globalisasi ini, lembaga pendidikan dituntut menciptakan proses belajar yang menyenangkan dan bermakna, sehingga menghasilkan pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, dan profesional. Kunci utamanya adalah penyediaan fasilitas pembelajaran yang baik, guru yang berdedikasi, serta lingkungan yang kondusif,” jelas Fasli.
Ia menambahkan bahwa negara-negara maju tak lepas dari peran besar pendidikan. “Tidak ada bangsa yang mampu berdiri sejajar dengan negara lain tanpa pendidikan yang kuat. Maka dari itu, pendidikan adalah jantung dari pembangunan peradaban,” tegasnya.
Mengangkat tema “Menyemai Ilmu, Menabur Cahaya”, peringatan Milad ke-60 ini merefleksikan semangat Yayasan Diniyyah dalam terus menjadi lentera bagi umat. Prof. Dr. Hj. Ellydar Chaidir, selaku Sekretaris Dewan Pembina, menyampaikan bahwa selama enam dekade, Diniyyah Puteri Pekanbaru konsisten dalam menjalankan visi mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan berbasis nilai-nilai Islam.
“Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi merupakan cerminan dari komitmen kami dalam menyebarkan ilmu sebagai cahaya peradaban, agar generasi muda Islam mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Seminar ini menandai dedikasi Yayasan Diniyyah untuk terus menjadi pelopor dalam pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing. Dalam momentum Milad ke-60 ini, seluruh civitas akademika dan jajaran pengurus yayasan meneguhkan komitmennya untuk terus melangkah maju, membentuk generasi tangguh yang siap memimpin masa depan. (rilis)