PEKANBARU – Manajemen Laksamana Muda Coffee & Live Space, Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, membantah tudingan menggelar atau memfasilitasi pesta Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Manajemen menyatakan, video yang beredar merupakan rekaman interaksi sejumlah pengunjung menjelang penutupan tempat usaha, bukan bagian dari acara resmi yang mereka selenggarakan.
Direktur Utama Laksamana Muda Coffee & Live Space, Howandi menegaskan, pihaknya tidak pernah menjadikan aktivitas dalam video tersebut sebagai program kafe.
Ia menyampaikan klarifikasi itu pada Kamis (22/10/2026), setelah potongan video berdurasi hampir satu menit memicu beragam reaksi masyarakat.
“Kami tegaskan Laksamana Muda tidak pernah mendukung atau memfasilitasi kegiatan yang melanggar aturan maupun norma yang berlaku di Pekanbaru,” kata Howandi.
Menurut penjelasan manajemen, peristiwa itu bermula pada Minggu (18/10/2026) malam sekitar pukul 21.00 WIB, ketika sekelompok pengunjung datang bersama teman dan keluarga.
Menjelang kafe tutup, sekitar pukul 23.00 WIB, salah seorang pengunjung diajak berjoget dan disawer oleh teman-temannya hingga membuka jaket.
Momen tersebut kemudian direkam pengunjung lain melalui siaran langsung. Cuplikan rekaman itu selanjutnya menyebar di media sosial dengan narasi yang, menurut manajemen, membentuk kesan tempat usaha tersebut menyelenggarakan pesta LGBT.
Howandi, yang didampingi Manajer Acara Hengky menyebut, rombongan tersebut merupakan pelanggan baru yang baru pertama kali datang ke Laksamana Muda.
Setelah video menjadi viral, manajemen mengaku telah menyerahkan rekaman kamera pengawas (CCTV) dan laporan kegiatan kepada pihak kelurahan, kecamatan, Pemko Pekanbaru, kepolisian, serta pihak terkait lainnya.
Manajemen juga menyatakan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pekanbaru mendatangi lokasi pada Senin (19/10/2026) untuk melakukan pemeriksaan.
Berdasarkan keterangan Howandi, pemeriksaan tersebut tidak menemukan kegiatan pesta sebagaimana yang digambarkan dalam video viral.
Ia juga menyebut pihak berwenang tidak menemukan bukti pelanggaran hukum dalam pemeriksaan tersebut.
Meski demikian, klaim mengenai hasil pemeriksaan itu dalam klarifikasi ini masih bersumber dari keterangan manajemen.
Dokumen resmi atau pernyataan langsung dari instansi terkait diperlukan untuk memastikan secara independen hasil pemeriksaan dan kesimpulan hukumnya.
Manajemen turut menyampaikan bahwa pengunjung yang menjadi sorotan dalam video tersebut, bersama walinya, telah mengunggah video permintaan maaf kepada masyarakat dan pihak Laksamana Muda.
Di tengah polemik yang berkembang, manajemen menyatakan tetap membuka diri terhadap pemeriksaan dan koordinasi dengan pemerintah daerah maupun kepolisian.
Pihaknya juga mengaku melakukan pembenahan internal serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas pengunjung.
“Kita memenuhi tanggung jawab sebagai sebuah tempat usaha dan terbukti tidak ada pesta atau yang diisukan,” ujar Howandi.
Ia memastikan Laksamana Muda Coffee & Live Space tetap beroperasi seperti biasa, mulai pukul 10.00 WIB hingga 24.00 WIB.
Howandi menjelaskan, tempat usaha tersebut merupakan restoran dengan fasilitas tata suara dan videotron.
Menurut dia, Laksamana Muda tidak menjual minuman beralkohol dan rutin menggelar pertunjukan musik serta penampilan DJ.
Lokasi itu juga digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, pertemuan, buka puasa bersama hingga donor darah.
Manajemen menyayangkan penyebaran video yang dinilai telah memicu keresahan dan membentuk persepsi negatif terhadap usahanya.