PEKANBARU - Hingga 17 September 2026, Diskes Kota Pekanbaru mencatat 5.587 kasus gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan kabut asap sejak kondisi tersebut mulai memburuk pada 24 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, 4.987 kasus merupakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Angka ini menunjukkan gangguan pernapasan menjadi persoalan kesehatan paling dominan di tengah kualitas udara yang kembali memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Beban kesehatan masyarakat juga tidak hanya berupa ISPA. Diskes Pekanbaru mencatat kasus pneumonia dan asma turut muncul di tengah periode kabut asap.
Data tersebut berasal dari pelayanan kesehatan di 21 puskesmas dan 29 rumah sakit di Kota Pekanbaru.
Kondisi ini menjadi perhatian karena jumlah pasien dengan keluhan saluran pernapasan mengalami kenaikan tajam dalam hitungan hari.
Wakil Walikota Pekanbaru, Markarius Anwar menyebut, jumlah pasien yang berkaitan dengan gangguan pernapasan kini bisa mencapai sekitar 400 orang dalam sehari.
Padahal, dalam kondisi normal jumlahnya berada di kisaran 170 pasien per hari.
"Biasanya sehari sekitar 170 pasien, tapi saat ini dalam sehari bisa rata-rata 400 orang," kata Markarius, Sabtu (19/9/2026).
Artinya, tekanan terhadap layanan kesehatan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kondisi yang biasa terjadi.
Pemko Pekanbaru pun harus menghadapi persoalan yang tidak lagi sebatas kualitas udara, tetapi sudah berimbas langsung terhadap kebutuhan pelayanan medis masyarakat.
Lonjakan kasus kesehatan tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada menurunnya jarak pandang atau memburuknya kualitas udara.
Paparan asap juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat, terutama ketika konsentrasi partikulat halus meningkat.
Pada 24 Agustus 2026, saat kabut asap mulai kembali menyelimuti Pekanbaru, pemantauan BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Bahkan, pada periode tertentu konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai level yang berbahaya.
Situasi kemudian kembali memburuk pada pertengahan September setelah kualitas udara sempat membaik akibat hujan.
Pemko Pekanbaru menyebut asap yang menyelimuti kota berasal dari wilayah lain dan terbawa angin, sementara titik panas di dalam Kota Pekanbaru saat itu tidak menjadi sumber utama.
Kondisi asap yang datang dan pergi tersebut membuat persoalan kesehatan menjadi sulit diprediksi.
Ketika hujan turun, kualitas udara dapat membaik. Namun, ketika aktivitas kebakaran kembali meningkat dan angin membawa asap ke Pekanbaru, paparan kembali terjadi.
Markarius mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi tersebut, khususnya kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan lanjut usia.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap.
"Bagi warga, apabila memang harus keluar rumah, maka gunakan masker untuk mencegah paparan kabut asap," ujarnya.
Pemko Pekanbaru juga meminta warga yang mulai mengalami gangguan pernapasan segera memanfaatkan fasilitas kesehatan.
Sebanyak 21 puskesmas disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan.
Langkah tersebut menjadi penting karena tren kasus menunjukkan bahwa dampak kabut asap telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat dengan jumlah pasien yang terus bertambah.
Bagi Pekanbaru, persoalannya kini bukan lagi sekadar seberapa tebal kabut asap yang terlihat di jalanan, tetapi seberapa besar dampaknya terhadap kesehatan warga dan kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan menangani lonjakan pasien.