PEKANBARU - Ajang Pekanbaru Job Fair 2026 mencatat lonjakan partisipasi signifikan dengan total 4.090 pelamar hingga Jumat (19/6/2026) sore.
Kegiatan bursa kerja yang digelar selama tiga hari ini menjadi magnet utama bagi pencari kerja, terutama lulusan sarjana yang mendominasi pendaftar.
Kadisnakertrasn Kota Pekanbaru, Iwan Simatupang menyebutkan, hari kedua menjadi puncak kunjungan pelamar dengan jumlah mencapai 2.006 orang.
“Sampai hari terakhir, hingga pada Jumat sore saja jumlah pelamar yang sudah mendatangi Pekanbaru Job Fair sudah lebih empat ribu orang,” ujarnya.
Berbeda dari mekanisme rekrutmen konvensional, job fair ini membuka ruang interaksi langsung antara perusahaan dan pencari kerja melalui sesi wawancara di tempat.
Model ini dinilai lebih efisien dalam mempercepat proses penyerapan tenaga kerja.
“Pelamar bukan hanya menyampaikan lamaran, tapi bisa langsung interview. Maka kita berharap nanti semua lowongan bisa terserap,” tambahnya.
Tahun ini, sebanyak 47 perusahaan ikut ambil bagian dalam bursa kerja tersebut dengan total 1.417 lowongan yang ditawarkan.
Sektor jasa keuangan menjadi penyumbang lowongan terbesar, disusul jasa kemasyarakatan, perdagangan, serta industri pengolahan.
Dominasi sektor formal menunjukkan kebutuhan tenaga kerja yang semakin mengarah pada keterampilan administratif, teknis, dan profesional, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelamar lulusan S1.
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho sebelumnya menargetkan serapan tenaga kerja dalam kegiatan ini dapat mencapai tingkat optimal.
Ia menegaskan harapannya agar seluruh kuota lowongan dapat terisi, namun tetap realistis dengan target minimal penyerapan di kisaran 70 persen.
Pemko juga menekankan peran aktif perusahaan dalam memastikan ketersediaan lapangan kerja benar-benar diisi oleh pencari kerja yang sesuai kualifikasi.
Tingginya jumlah pelamar dalam Pekanbaru Job Fair 2026 mencerminkan dinamika pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.
Di sisi lain, kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lowongan masih menjadi tantangan struktural yang perlu diatasi melalui penguatan pelatihan vokasi dan link and match industri.