PEKANBARU – Lonjakan titik panas atau hotspot kembali terjadi di wilayah Sumatera. Data pemantauan BMKG pada Rabu (7/10/2026) sore mencatat 3.157 titik panas terdeteksi di sejumlah provinsi, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumsel.
Forecaster On Duty BMKG, Ranti Kurniati mengatakan, Sumsel menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling dominan, yakni mencapai 2.564 titik.
Angka tersebut jauh melampaui provinsi lain dan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas indikasi panas yang perlu diwaspadai, terutama di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Total titik panas wilayah Sumatera sore ini mencapai 3.157 titik," ujar Ranti Kurniati, Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG, selain Sumatera Selatan, hotspot juga terdeteksi cukup banyak di Jambi 204 titik, Babel 222 titik dan Lampung 154 titik.
Sementara itu, sejumlah provinsi lainnya mencatat jumlah hotspot yang relatif rendah. Aceh dan Bengkulu masing-masing satu titik, Sumut dua titik.
Kondisi berbeda terlihat di Riau. Meski jumlah hotspot jauh lebih rendah dibandingkan provinsi tetangga, BMKG masih mendeteksi sembilan titik panas di tiga daerah.
Hotspot Riau tersebut tersebar di Kota Dumai satu titik, Kabupaten Kuansing tujuh titik dan Kabupaten Rohil satu titik.
Dominasi hotspot di Sumsel menjadi perhatian karena tingginya jumlah titik panas dapat meningkatkan potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan apabila didukung kondisi cuaca yang kering dan angin yang memungkinkan api berkembang.
Bagi Riau, jumlah sembilan hotspot memang relatif kecil dibandingkan total di Sumatera. Namun, keberadaan titik panas di Dumai, Kuansing dan Rohil tetap perlu dipantau karena wilayah Riau memiliki karakteristik lahan yang rentan terhadap kebakaran, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung penyebaran asap.
Data hotspot sendiri merupakan indikator awal adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit.
Karena itu, keberadaan hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran yang telah terkonfirmasi. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan sumber panas tersebut.
Dengan total hotspot Sumatera yang menembus 3.000 titik, peningkatan pemantauan dan respons cepat menjadi penting agar indikasi panas tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas dan berdampak terhadap kualitas udara maupun aktivitas masyarakat.
Data hotspot Sumatera 7 Oktober 2026: Aceh 1, Bengkulu 1, Jambi 204, Lampung 154, Sumatera Utara 2, Sumatera Selatan 2.564, Bangka Belitung 222, dan Riau 9 titik.