PEKANBARU – Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera masih terpantau pada Sabtu (26/9/2026) sore.
Namun, konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan yang mencatat 490 titik panas dari total 635 titik yang terdeteksi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, hotspot tersebut tersebar di sejumlah provinsi.
Selain Sumatera Selatan, titik panas juga terpantau di Bangka Belitung 53 titik, Lampung 47 titik, Jambi 39 titik, Aceh satu titik dan Kepulauan Riau satu titik.
Sementara itu, Riau mencatat empat hotspot, dengan sebaran di Kota Dumai sebanyak dua titik, Kabupaten Siak satu titik dan Kabupaten Indragiri Hilir satu titik.
"Total titik panas wilayah Sumatera Sabtu sore ada 635 titik," tutur Yasir.
Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas hotspot di Sumatera pada sore hari tidak merata.
Sumatera Selatan menjadi episentrum sebaran titik panas, menyumbang sekitar 77 persen dari total hotspot yang terpantau di Sumatera.
Sebaliknya, jumlah hotspot di Riau relatif kecil. Meski demikian, angka tersebut tetap perlu dibaca dalam konteks kondisi atmosfer dan potensi kebakaran hutan dan lahan karena hotspot dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, tutupan lahan dan aktivitas pembakaran.
Dominasi Sumatera Selatan bukan fenomena yang sepenuhnya baru dalam perkembangan hotspot sepanjang September.
Data BMKG yang dipublikasikan sebelumnya juga menunjukkan Sumsel beberapa kali menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi di Sumatera.
Pada 21 September 2026, BMKG bahkan mencatat Sumatera Selatan sebagai salah satu wilayah dengan akumulasi hotspot tinggi dalam periode 10 hari terakhir.
BMKG juga menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering di sejumlah wilayah Sumatera masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan karhutla.
Untuk Riau sendiri, angka empat hotspot pada Sabtu sore menunjukkan penurunan tajam dibanding sejumlah pantauan sebelumnya.
Pada 22 September, misalnya, Riau masih tercatat memiliki 13 hotspot, sedangkan pada 18 September jumlahnya mencapai 71 titik.
Meski demikian, rendahnya jumlah hotspot di Riau tidak otomatis berarti risiko karhutla telah hilang.
BMKG pada 26 September masih memasukkan Riau dalam wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat dalam periode prakiraan cuaca tiga harian.
Dengan demikian, perkembangan hotspot tetap perlu dipantau secara berkala karena kondisi dapat berubah cepat dari satu waktu pengamatan ke waktu berikutnya.