PEKANBARU - Sebaran titik panas atau hotspot di Sumatera masih cukup tinggi pada Minggu (13/9/2026) pagi.
Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru, tercatat 673 titik panas di wilayah Sumatera, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumsel.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang mengatakan, dari total tersebut hanya 12 hotspot terdeteksi di Provinsi Riau.
“Untuk wilayah Riau terpantau 12 titik panas,” ujarnya.
Sebaran hotspot di Riau tersebut tidak merata. Kabupaten Inhu menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 11 titik, sedangkan satu titik lainnya berada di Kabupaten Pelalawan.
Komposisi ini membuat Inhu menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski secara keseluruhan jumlah hotspot Riau masih jauh lebih rendah dibandingkan beberapa provinsi lain di Sumatera.
Di tingkat regional, Sumsel menjadi penyumbang hotspot terbesar pada pemantauan Minggu pagi dengan 487 titik.
Jumlah tersebut jauh melampaui provinsi lain dan menyumbang sebagian besar dari total 673 hotspot yang terpantau di Sumatera.
Setelah Sumsel, Babel mencatat 78 titik dan Lampung 68 titik.
Sementara itu, Jambi memiliki tujuh hotspot, Sumut enam titik, Bengkulu 11 titik, Kepri dua titik, serta masing-masing satu titik terpantau di Aceh dan Sumbar.
Dengan demikian, ancaman hotspot di Sumatera saat ini masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah tertentu, bukan tersebar merata di seluruh provinsi.
Rendahnya jumlah hotspot Riau tidak serta-merta berarti risiko karhutla dapat diabaikan.
Sebanyak 11 dari 12 titik panas Riau berada di Inhu, sehingga pemantauan di wilayah tersebut menjadi penting, khususnya apabila kondisi cuaca mendukung munculnya titik api baru.
Hotspot sendiri merupakan indikator awal yang terdeteksi melalui penginderaan jauh dan tidak otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran.
Karena itu, keberadaan hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah terdapat kebakaran hutan atau lahan.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa angka hotspot perlu dibaca berdasarkan lokasi dan konsentrasinya, bukan hanya jumlah keseluruhan provinsi.
Bagi Riau, konsentrasi 11 hotspot di Inhu menjadi sinyal kewaspadaan tersendiri. Apalagi satu hotspot lainnya masih terpantau di Pelalawan, daerah yang juga memiliki riwayat kerawanan karhutla.
BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot dan kondisi atmosfer sebagai bagian dari deteksi dini potensi karhutla di wilayah Riau.