PEKANBARU - Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau menghadapi tantangan lain di luar kobaran api.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau meminta masyarakat tidak menerbangkan drone di sekitar lokasi pemadaman yang melibatkan helikopter waterbombing.
Peringatan tersebut disampaikan setelah sebuah drone milik warga terdeteksi terbang di sekitar area operasi pemadaman karhutla di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Sabtu (22/8/2026).
Kalaksa BPBD Riau, M Edy Afrizal mengatakan, keberadaan drone sipil di ruang udara operasi dapat mengancam keselamatan penerbangan sekaligus menghambat strategi pemadaman dari udara.
“Hari ini tim sedang melakukan pemadaman di Tapung, namun ada masyarakat sipil yang menerbangkan drone di lokasi yang berdekatan dengan titik pemadaman,” kata Edy.
Menurut Edy, penerbangan drone secara bebas di zona pemadaman bukan sekadar persoalan mengganggu aktivitas petugas.
Perangkat tersebut dapat menimbulkan risiko serius ketika beroperasi di ruang udara yang sama dengan helikopter pemadam.
Salah satu ancaman terbesar adalah kemungkinan drone bertabrakan dengan helikopter.
Benturan dengan pesawat yang sedang membawa muatan air dalam operasi waterbombing berpotensi menimbulkan kerusakan dan membahayakan keselamatan awak.
Risiko lainnya berkaitan dengan sinyal dan aktivitas drone yang dapat mengganggu komunikasi maupun navigasi penerbangan.
Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika pilot harus bermanuver cepat untuk menjatuhkan air ke titik api.
“Selain itu, juga mengganggu konsentrasi dan manuver pilot saat menjatuhkan air,” ungkap Edy.
Operasi waterbombing membutuhkan ruang gerak udara yang aman agar helikopter dapat melakukan pengambilan air, menuju lokasi kebakaran, kemudian menjatuhkan air secara presisi.
Ketika terdapat drone di sekitar jalur operasi, pilot harus memperhitungkan potensi bahaya tambahan.
Situasi itu dapat memaksa manuver atau penyesuaian penerbangan sehingga efektivitas pemadaman berkurang.
Jika operasi udara terganggu, penanganan kebakaran juga berpotensi menjadi lebih lambat. Dalam kondisi api yang terus berkembang, keterlambatan pemadaman dapat memberikan peluang bagi kebakaran untuk meluas.
Karena itu, sterilisasi ruang udara di sekitar lokasi waterbombing menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan operasi penanggulangan karhutla di Riau.
BPBD Riau mengajak masyarakat memahami bahwa larangan menerbangkan drone di sekitar lokasi pemadaman bukan sekadar pembatasan aktivitas, melainkan langkah keselamatan untuk melindungi pilot, awak helikopter, petugas di darat, dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Edy meminta masyarakat memberikan ruang sepenuhnya kepada tim gabungan untuk menjalankan operasi pemadaman.
“Mari bersama-sama mendukung kelancaran operasi waterbombing dan menjaga keselamatan seluruh personel di lapangan,” tegas Edy.
Dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla. Selain membantu menjaga keamanan area operasi, masyarakat juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu mobilitas maupun koordinasi petugas.
Dengan ruang udara yang steril, helikopter waterbombing dapat menjalankan misi secara lebih aman dan optimal.
Di tengah ancaman karhutla yang masih menjadi perhatian di Riau, keselamatan operasi udara menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mempercepat pemadaman.