PEKANBARU - Provinsi Riau masuk dalam daftar wilayah dengan dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terbesar di Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas wilayah terdampak Karhutla di Riau mencapai 15.477,95 hektare.
Angka tersebut menempatkan Riau di peringkat kedua nasional, hanya berada di bawah Kalimantan Barat yang mencatat luas terdampak Karhutla sebesar 28.680,47 hektare.
Data tersebut disampaikan Kepala BNPB RI, Letnan Jenderal TNI Dr Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan, Senin (10/8/2026).
Menurut Suharyanto, terdapat 10 provinsi yang saat ini menjadi prioritas penanganan Karhutla secara nasional.
Selain Kalimantan Barat dan Riau, wilayah tersebut mencakup Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kepri, Lampung, Aceh dan Kalimantan Tengah.
"10 provinsi tersebut diantaranya Kalimantan Barat, Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua Selatan," ujar Suharyanto.
Ia kemudian merinci, Riau memiliki karakteristik dampak Karhutla yang jauh lebih dominan terjadi di luar kawasan hutan.
Dari total 15.477,95 hektare, sebanyak 1.100,71 hektare berada di dalam kawasan hutan. Sementara itu, 14.377,24 hektare lainnya terjadi di kawasan nonhutan.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 92,9 persen luas wilayah terdampak Karhutla di Riau berada di kawasan nonhutan.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas terdampak Karhutla terbesar berdasarkan data BNPB hingga 30 Juni 2026.
Luasannya mencapai 28.680,47 hektare, terdiri atas 649,43 hektare kawasan hutan dan 28.031,04 hektare nonhutan.
Setelah Riau, posisi berikutnya ditempati Nusa Tenggara Timur dengan luas terdampak mencapai 10.538,30 hektare.
Dari jumlah tersebut, 36,40 hektare berada di kawasan hutan dan 10.501,89 hektare di luar kawasan hutan.
Maluku berada di urutan keempat dengan luas terdampak 7.091,07 hektare, disusul Papua Selatan 6.281,81 hektare.
"Di Nusa Tenggara Timur, Karhutla terjadi dengan luasan mencapai 10.538,30 hektare dengan pembagian 36,40 hektare pada kawasan hutan dan 10.501,89 hektare non hutan. Sementara di Maluku, Karhutla terjadi 7.091,07 hektare," kata Suharyanto.
Provinsi lain yang masuk daftar prioritas juga mencatat luasan Karhutla cukup signifikan.
Nusa Tenggara Barat berada di posisi keenam dengan luas terdampak 5.759,19 hektare, terdiri dari 209,43 hektare kawasan hutan dan 5.549,76 hektare nonhutan.
Berikutnya Kepri mencatat 5.709,27 hektare, dengan 63,27 hektare berada di kawasan hutan dan 5.646 hektare di kawasan nonhutan.
Lampung tercatat memiliki luas terdampak 3.489,42 hektare, sedangkan Aceh mencapai 3.099,05 hektare.
Adapun Kalimantan Tengah menjadi provinsi kesepuluh dalam daftar prioritas dengan luas terdampak Karhutla mencapai 3.069,52 hektare.
"Disusul dengan Nusa Tenggara Barat, Kepri, Lampung dan Aceh. Terakhir di Kalimantan Tengah," pungkas Suharyanto.