PEKANBARU – Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru pada Sabtu (1/8/2026) sore, sebanyak 173 titik panas teridentifikasi di wilayah Sumatera.
Provinsi Sumatera Selatan menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni mencapai 59 titik.
Di bawahnya terdapat Bangka Belitung dengan 37 titik, Jambi 18 titik, serta Riau yang mencatat 18 titik panas.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengatakan, titik panas di Riau tersebar di enam kabupaten/kota.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki titik panas lebih banyak.
“Total titik panas wilayah Sumatera, Sabtu (1/8/2026) sore ada 173 titik,” ujar Deby.
Di Provinsi Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Dari total 18 titik panas yang terdeteksi, tujuh di antaranya berada di Pelalawan.
Sementara itu, Kota Dumai tercatat memiliki lima titik panas. Berikutnya Kabupaten Indragiri Hilir dengan tiga titik, sedangkan Rokan Hilir, Siak, dan Indragiri Hulu masing-masing terpantau satu titik panas.
Secara regional, sebaran hotspot Sumatera pada Sabtu sore juga mencakup Aceh sebanyak tujuh titik, Bengkulu delapan titik, Lampung 10 titik, Sumatera Barat 11 titik, Sumatera Utara satu titik, serta Kepulauan Riau empat titik.
Data BMKG tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot masih cukup tinggi di beberapa provinsi, dengan Sumatera Selatan menjadi wilayah yang paling dominan.
Di Riau sendiri, pemantauan terhadap titik panas perlu terus dilakukan karena sebarannya mencakup sejumlah wilayah yang memiliki potensi kerawanan karhutla.
Masyarakat di daerah yang terpantau memiliki hotspot diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya pada lahan gambut dan kawasan yang mudah terbakar.
Pemantauan lapangan dan verifikasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan apakah titik panas tersebut berkaitan dengan kebakaran lahan atau sumber panas lainnya.