PEKANBARU - BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi 17 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Provinsi Riau, Sabtu (27/6/2026). Temuan ini menjadi perhatian karena titik panas tersebut tersebar di enam kabupaten dan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila tidak segera ditangani.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami, mengatakan berdasarkan pemantauan satelit, total terdapat 160 titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 160 titik. Riau menyumbang 17 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten," kata Sanya Gautami, Sabtu (27/6/2026).
Dari data BMKG, Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak yakni 51 titik, disusul Bangka Belitung sebanyak 38 titik dan Riau sebanyak 17 titik. Sementara itu, Jambi tercatat 16 titik, Sumatera Barat dan Sumatera Utara masing-masing 9 titik, Lampung 8 titik, Bengkulu 6 titik, Aceh 5 titik, dan Kepulauan Riau 1 titik.
Di Provinsi Riau, titik panas terbanyak terdeteksi di Kabupaten Rokan Hilir sebanyak enam titik. Selanjutnya Kabupaten Indragiri Hulu lima titik, Kabupaten Siak tiga titik, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, dan Rokan Hulu.
"Sebaran titik panas di Riau meliputi Kabupaten Bengkalis satu titik, Pelalawan satu titik, Rokan Hilir enam titik, Rokan Hulu satu titik, Siak tiga titik, dan Indragiri Hulu lima titik," ujar Sanya.
BMKG mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang terpantau memiliki titik panas. Pemantauan secara berkala terus dilakukan guna mengantisipasi peningkatan hotspot selama musim kemarau.
"Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dan tetap waspada terhadap potensi karhutla di wilayah yang terdeteksi titik panas," tutup Sanya Gautami.