PEKANBARU – Sebuah titik api karhutla terdeteksi di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Kamis (19/6/2026), dan langsung ditangani petugas melalui operasi pemadaman udara untuk mencegah kebakaran meluas.
Respons cepat yang dilakukan tim gabungan berhasil mengendalikan api dalam waktu singkat sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran berskala besar.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, titik api tersebut segera ditindaklanjuti dengan water bombing setelah terdeteksi di lapangan.
"Tadi ada satu titik di Pasir Limau Kapas, sudah dilakukan water bombing. Tidak luas, hanya menimbulkan asap tipis," ujar Ferdian.
Munculnya titik api itu menjadi perhatian serius karena tren karhutla di Riau sepanjang 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup (LH), luas karhutla di Riau hingga Mei 2026 mencapai 15.318 hektare.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode Januari hingga Mei 2025 yang tercatat hanya 751 hektare.
Data tersebut menempatkan Kabupaten Bengkalis sebagai wilayah dengan dampak karhutla terluas sepanjang tahun ini, yakni mencapai 8.237 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pelalawan dengan 4.538 hektare dan Kabupaten Indragiri Hilir seluas 947 hektare.
Meski mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu, luas kebakaran tahun 2026 masih berada di bawah catatan saat musim kemarau ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Pada periode Januari-Mei 2019, karhutla di Riau mencapai 27.742 hektare, sementara pada tahun 2023 tercatat 1.860 hektare.
Mengantisipasi potensi bertambahnya titik api selama musim kemarau, Balai Dalkarhut bersama berbagai unsur terkait terus memperkuat langkah pencegahan melalui patroli darat dan udara di wilayah rawan.
Menurut Ferdian, patroli tersebut tidak hanya berfungsi mendeteksi dini kebakaran, tetapi juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Upaya pencegahan karhutla terus dilaksanakan melalui patroli darat dan udara untuk mempercepat respons apabila terdeteksi adanya kebakaran ataupun hotspot," ucapnya.
"Patroli darat juga mengedepankan sosialisasi serta deteksi kondisi lapangan di desa-desa rawan karhutla," sambungnya.
Sepanjang Juni 2026, Manggala Agni Seksi Wilayah II telah mengintensifkan kegiatan pencegahan di sejumlah daerah rawan kebakaran di Riau.
Tercatat, patroli terpadu dilakukan sebanyak enam kali di enam desa dengan melibatkan Manggala Agni, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Selain itu, patroli bersama masyarakat dilaksanakan enam kali di dua desa, sementara patroli mandiri oleh personel Manggala Agni menjangkau sembilan desa dengan total 12 kali kegiatan.
Pengawasan dari udara juga terus diperkuat melalui operasi Satgas Udara yang rutin melakukan pemantauan wilayah rawan kebakaran sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
"Ini salah satu upaya antisipasi yang sedang kami lakukan, didukung operasi Satgas Udara untuk patroli udara," jelas Ferdian.
Pemerintah berharap sinergi antara patroli darat, patroli udara, aparat keamanan, dan partisipasi masyarakat dapat menekan risiko kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau 2026, sehingga kejadian karhutla besar yang pernah melanda Riau pada tahun-tahun sebelumnya tidak kembali terulang.