PEKANBARU - Alarm kewaspadaan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera kembali berbunyi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai provinsi, dengan Sumatera Selatan dan Riau sebagai penyumbang angka tertinggi.
Berdasarkan data pemantauan terbaru pada Rabu (27/5/2026) sore, total titik panas di pulau Sumatera telah menyentuh angka 51 titik.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait potensi penurunan kualitas udara jika tidak segera dimitigasi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris menegaskan, pergerakan titik panas ini terus dipantau secara ketat agar otoritas terkait dapat melakukan tindakan pencegahan dini di lapangan.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera pada Rabu sore ada 51 titik," ujar Alfa Nataris.
Dari data yang dirilis BMKG, Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni mencapai 12 titik.
Tepat di bawahnya, Provinsi Riau membuntuti dengan 11 titik panas yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten penopang ekonomi.
Rincian sebaran 51 titik panas di wilayah Sumatera hari ini meliputi, Sumatera Selatan 12 titik, Riau 11 titik, Jambi 9 titik, Sumatera Utara 8 titik, Aceh 5 titik, Sumatera Barat 3 titik, Bengkulu 2 titik dan Lampung 1 titik.
Khusus untuk Provinsi Riau, penyebaran 11 titik panas tidak merata di satu wilayah, melainkan memencar di empat kabupaten yang secara historis memang memiliki lahan gambut yang rentan.
Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah yang paling diwaspadai sore ini dengan temuan 4 titik panas.
Diikuti oleh Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Siak yang masing-masing mengantongi 3 titik panas, serta Kabupaten Kuantan Singingi dengan 1 titik panas.
Meningkatnya grafik hotspot di pertengahan tahun ini menjadi sinyal kuat bagi Satgas Karhutla dan masyarakat setempat untuk memperketat patroli darat maupun udara, guna memastikan titik panas tersebut tidak berubah menjadi titik api.