KUANSING – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuantan Singingi (Kuansing) mulai menggeser konsep penataan Tepian Narosa dari sekadar lokasi penyelenggaraan Festival Pacu Jalur menjadi kawasan terpadu yang menggabungkan fungsi budaya, pariwisata, ruang publik dan penggerak ekonomi masyarakat.
Konsep tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Pembangunan Infrastruktur Kawasan Strategis (RIPKS) Tepian Narosa yang digelar di Ruang Pertemuan Asrul Jaafar, Kantor Bupati Kuansing, Senin (28/9/2026).
FGD yang dibuka Plt Bupati Kuansing, Muklisin melalui Asisten II Setda Kuansing, Napisman itu melibatkan unsur pemerintah pusat dan daerah, tenaga ahli, kementerian terkait, budayawan hingga seniman.
Napisman menegaskan, tantangan utama penataan Tepian Narosa bukan hanya menyediakan infrastruktur baru, tetapi memastikan pembangunan tidak menghilangkan karakter budaya yang selama ini melekat kuat pada kawasan tersebut.
"Penataan tepian Narosa bukan hanya pembangunan infrastruktur di tepian sungai. Ini merupakan kawasan budaya, ekonomi dan sosial kemasyarakatan masyarakat Kuansing," ucap Napisman.
Dalam pembahasan RIPKS, sejumlah fasilitas dirancang untuk memperkuat fungsi Tepian Narosa sebagai ruang publik sekaligus kawasan pendukung kegiatan budaya dan pariwisata.
Rencana tersebut mencakup pembangunan pedestrian, dermaga apung, jalur tanggul, tribun penonton, toilet publik hingga panggung semi permanen.
Penataan juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Festival Pacu Jalur yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama Kuansing.
Namun, manfaat kawasan tidak diarahkan berhenti ketika festival berakhir. Pemerintah daerah mendorong agar Tepian Narosa tetap hidup sepanjang tahun melalui aktivitas UMKM, ekonomi kreatif, seni dan kegiatan kebudayaan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pembangunan kawasan strategis berisiko hanya menjadi proyek fisik jika tidak disertai konsep pemanfaatan yang berkelanjutan.
Karena itu, keterlibatan budayawan dan seniman dalam penyusunan rencana menjadi bagian penting untuk memastikan pengembangan kawasan tetap mempertahankan identitas lokal.
Melalui RIPKS, Pemkab Kuansing menargetkan Tepian Narosa memiliki tata kawasan yang lebih terintegrasi, nyaman dan representatif.
Konsep tersebut menempatkan tepian sungai bukan hanya sebagai ruang untuk menyaksikan Pacu Jalur, tetapi sebagai ruang interaksi masyarakat sekaligus simpul kegiatan budaya dan ekonomi.
Jika konsep itu terealisasi secara konsisten, Tepian Narosa berpotensi memiliki fungsi yang lebih luas di luar momentum festival, termasuk sebagai ruang publik, lokasi pertunjukan seni, destinasi wisata dan tempat berkembangnya aktivitas pelaku UMKM.