INHU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali muncul di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.
Saat tim gabungan masih berupaya menuntaskan kebakaran yang telah berlangsung belasan hari di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, titik api baru muncul di Desa Penyaguhan, Kecamatan Batang Gansal.
Karhutla di Desa Penyaguhan terjadi pada Kamis (20/8/2026) dan membakar sekitar tiga hektare lahan. Beruntung, api dapat segera dikendalikan setelah tim gabungan bergerak melakukan pemadaman.
Kepala Desa Penyaguhan, Marwan membenarkan kebakaran tersebut. Menurut dia, api sempat meluas di area perkebunan warga sebelum berhasil dipadamkan.
“Tadi sempat terbakar, cuma tiga hektar. Tapi tadi sudah padam,” ujar Marwan.
Pemadaman melibatkan personel TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhu, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Penyaguhan.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat penanganan api dapat dilakukan dengan cepat sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.
Marwan menjelaskan, karakter lahan yang terbakar cukup beragam. Sebagian merupakan lahan gambut, sementara bagian lainnya berupa lahan mineral.
Area yang terdampak berada di kawasan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat. Meski demikian, tidak seluruh tanaman sawit di lokasi tersebut ikut terbakar.
“Lahan itu perkebunan kelapa sawit milik warga, tapi tidak semua sawitnya yang terbakar,” kata Marwan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran pada lahan gambut berpotensi lebih sulit ditangani dibandingkan kebakaran di permukaan lahan mineral.
Api juga dapat menjalar melalui lapisan organik di bawah permukaan sehingga membutuhkan proses pendinginan dan pembasahan yang lebih menyeluruh.
Di sisi lain, persoalan Karhutla di Inhu belum sepenuhnya berakhir. Tim gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat.
Penanganan di wilayah tersebut telah memasuki hari ke-18. Berdasarkan informasi sebelumnya, total area yang terbakar telah mencapai sekitar 434,35 hektare.
Proses pemadaman di lokasi tersebut menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan sumber air yang membuat upaya pembasahan lahan tidak mudah dilakukan.
Selain itu, material yang masih tersedia sebagai bahan bakar di area terbakar menyebabkan api berpotensi kembali menyala.
Kondisi ini membuat tim harus melakukan penanganan secara berulang hingga titik api benar-benar terkendali.
Untuk mempercepat proses pemadaman, operasi di Sungai Guntung Hilir juga mendapat dukungan water bombing atau pengeboman air dari udara.
Munculnya kebakaran baru di Penyaguhan ketika penanganan di Sungai Guntung Hilir masih berlangsung menunjukkan tantangan pengendalian Karhutla di Inhu belum selesai.
Di Penyaguhan, luas lahan yang terbakar relatif lebih kecil dan api berhasil dipadamkan melalui respons cepat tim gabungan.
Sementara di Sungai Guntung Hilir, kebakaran telah berlangsung selama 18 hari dengan luas terdampak ratusan hektare dan kondisi lapangan yang lebih kompleks.