INHU – Upaya mempercepat penanganan stunting di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) mendapat dorongan dari sektor dunia usaha.
Pertamina EP (PEP) Lirik mencatat tujuh anak dari total 17 penerima manfaat program GANSING (Gerakan Anak Sehat No Stunting) berhasil keluar dari status stunting setelah mengikuti pendampingan intensif selama 2025.
Capaian tersebut setara dengan 41,2 persen penerima manfaat, sekaligus menjadi modal bagi Pertamina EP Lirik untuk memperluas intervensi program pada 2026.
Tahun ini, GANSING menyasar 18 anak stunting dan tiga ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Para penerima manfaat tersebar di lima desa di Kecamatan Lirik, yakni Japura, Gudang Batu, Sukajadi, Wonosari, dan Seko Lubuk Tigo.
Perluasan program ditandai dengan penyuluhan kepada orangtua penerima manfaat dan pelatihan peningkatan kapasitas kader Posyandu.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Dang Patra Komperta Camp I Pertamina EP Lirik, Kamis (23/7/2026).
Mengangkat tema "Langkah Praktis Orangtua Mendampingi Anak Berisiko Stunting agar Tumbuh Optimal", kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan keluarga dalam memperkuat upaya pencegahan serta penanganan stunting.
Pjs Field Manager Pertamina EP Lirik, M Ridho menilai, persoalan stunting tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.
Menurutnya, keterlibatan keluarga, pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, hingga sektor swasta menjadi bagian penting dalam memastikan intervensi berjalan secara berkelanjutan.
"Melalui Program GANSING, kami ingin memperluas dampak tersebut sehingga semakin banyak anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting," ujar Ridho.
"Pertamina akan terus hadir melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi," sambungnya.
Program GANSING dirancang bukan sekadar memberikan bantuan makanan tambahan. Selama enam bulan, keluarga penerima manfaat memperoleh pendampingan yang mencakup edukasi gizi bagi orangtua, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, bantuan nutrisi, serta pendampingan dari tenaga kesehatan dan kader Posyandu.
PEP Lirik juga menyerahkan secara simbolis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada keluarga sasaran.
Bantuan tersebut terdiri atas susu formula, biskuit bayi, dan vitamin sebagai bagian dari rangkaian intervensi gizi.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu keluarga memahami bahwa pencegahan stunting membutuhkan perubahan perilaku dan pola asuh secara konsisten, bukan hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan dalam jangka pendek.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Mhd Irzal mengingatkan, pencegahan stunting idealnya dilakukan sejak masa sebelum kehamilan hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Fokus intervensi mencakup pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan anak, pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai, serta penerapan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak.
Edukasi juga diarahkan pada pemanfaatan sumber pangan lokal. Salah satu yang diperkenalkan adalah daun kelor atau Moringa oleifera yang memiliki kandungan protein, vitamin, mineral, dan antioksidan.
Bahan pangan lokal tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk makanan bergizi, termasuk stik daun kelor, sehingga berpotensi menjadi salah satu pilihan tambahan untuk mendukung kebutuhan nutrisi ibu hamil dan balita.
Selain menyasar anak dan keluarga, GANSING juga memperkuat peran kader Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pelatihan yang diberikan berfokus pada penerapan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Materinya meliputi peningkatan kapasitas kader, pelaksanaan lima langkah pelayanan Posyandu, pencatatan dan pelaporan, edukasi kesehatan, hingga mekanisme kunjungan rumah.
Penguatan tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan kader dalam memantau kondisi ibu hamil dan balita sekaligus mempercepat deteksi terhadap keluarga yang berpotensi menghadapi persoalan gizi.
Dengan demikian, intervensi dapat dilakukan lebih awal sebelum masalah kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Pelaksanaan program GANSING melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari BKKBN Provinsi Riau, Tim Penggerak PKK Kabupaten Inhu, Dinas Kesehatan Inhu, DPPKBP3A Inhu, Pemerintah Kecamatan Lirik, Puskesmas Lirik, pemerintah desa, penyuluh KB, PLKB, bidan desa, hingga kader Posyandu dari lima desa sasaran.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan program.
Pasalnya, keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada keterhubungan antara intervensi kesehatan, pemenuhan gizi, edukasi keluarga, dan penguatan layanan dasar di tingkat masyarakat.
Bagi PEP Lirik, GANSING juga merupakan bagian dari pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat yang diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
Program tersebut secara khusus berkaitan dengan tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan, tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.(rilis)