www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
SF Hariyanto Ingatkan Daerah Jangan Telat Bayar Gaji PPPK, Siap Dibantu Pemprov Riau
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Menanam Hijau, Memanen Laut
Rabu, 01 Juli 2026 - 14:01:00 WIB
Petani memanen ikan bandeng di tambak kawasan mangrove Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Budidaya perikanan dengan metode silvofishery yang mengintegrasikan tambak dan mangrove tersebut dikembangkan untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan produktivitas hasil perikanan. ANTARA/HO-Diskominfotik Surabaya/am.
Petani memanen ikan bandeng di tambak kawasan mangrove Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Budidaya perikanan dengan metode silvofishery yang mengintegrasikan tambak dan mangrove tersebut dikembangkan untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan produktivitas hasil perikanan. ANTARA/HO-Diskominfotik Surabaya/am.

SURABAYA - Angin pesisir di Kota Surabaya, Jawa Timur tak lagi hanya membawa aroma asin laut dan lumpur tambak.

Di kawasan Wonorejo hingga Gunung Anyar, angin itu juga membawa harapan baru tentang cara kota pesisir bertahan di tengah ancaman abrasi, krisis iklim, dan penyusutan ruang hidup nelayan tambak.

Harapan itu tumbuh dari akar-akar mangrove yang kini tidak lagi dipandang sebagai penghalang produktivitas, melainkan bagian dari sistem ekonomi pesisir itu sendiri.

Di tengah tekanan pembangunan kota, pesisir Surabaya menghadapi persoalan yang jamak dialami banyak kota pantai di Indonesia. Abrasi terus menggerus garis pantai, kualitas air memburuk, suhu kota meningkat, dan ekosistem pesisir perlahan kehilangan daya dukungnya. Pada saat yang sama, masyarakat tambak dituntut tetap produktif demi mempertahankan penghidupan.

Dalam situasi itulah metode silvofishery atau wanamina menemukan relevansinya. Konsep yang menggabungkan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove itu kini mulai dikembangkan lebih serius oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

Gagasan dasarnya sederhana, tetapi dampaknya besar. Tambak tidak lagi dipisahkan dari hutan mangrove. Pohon mangrove justru ditanam dan dirawat di area budidaya agar membentuk ekosistem alami yang mendukung pertumbuhan ikan, udang, kepiting, sekaligus menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Yang menarik, pendekatan ini lahir bukan dari romantisme konservasi semata. Surabaya mencoba membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi warga.

Akar kehidupan

Selama bertahun-tahun, banyak kawasan mangrove di Indonesia ditebang demi perluasan tambak konvensional. Mangrove dianggap mengurangi ruang produksi dan mempersempit area budidaya. Akibatnya, banyak pesisir kehilangan benteng alaminya terhadap abrasi dan intrusi air laut.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan mangrove memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih kompleks. Akar mangrove mampu menahan sedimen, menyerap karbon, menjadi tempat pemijahan ikan, sekaligus menjaga kestabilan kualitas air. Ekosistem itu menciptakan rantai kehidupan yang justru mendukung produktivitas perikanan.

Surabaya mulai membaca ulang hubungan tersebut. Pengalaman panen bandeng di kawasan mangrove Wonorejo pada 2021 menjadi salah satu contoh awal. Dari tambak berbasis silvofishery seluas sekitar satu hektare, kawasan itu mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Angka itu menunjukkan bahwa integrasi mangrove tidak otomatis menurunkan hasil budidaya.

Di banyak negara, pendekatan serupa sudah lebih dulu berkembang. Vietnam menjadikan silvofishery sebagai strategi adaptasi perubahan iklim di Delta Mekong. Thailand mengembangkan tambak udang berbasis mangrove untuk menjaga keberlanjutan ekspor hasil laut.

Bahkan dalam sejumlah studi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, sistem ini dinilai mampu mengurangi kerusakan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat pantai.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan model serupa. Luas hutan mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,4 juta hektare atau terbesar di dunia. Namun, sebagian besar masih menghadapi ancaman degradasi akibat alih fungsi lahan dan pencemaran.

Karena itu, langkah Surabaya menarik bukan semata karena skala programnya, melainkan karena keberanian mengubah cara pandang terhadap pesisir kota. Mangrove tidak lagi ditempatkan sebagai ruang sisa pembangunan, melainkan fondasi ekonomi hijau perkotaan.

Jejak perubahan

Meski menjanjikan, silvofishery bukan konsep yang bisa langsung diterima semua pihak. Tantangan terbesarnya justru terletak pada perubahan kebiasaan masyarakat pesisir.

Petambak selama ini terbiasa dengan pola budidaya konvensional yang mengutamakan luasan kolam produksi. Menanam mangrove di area tambak sering dianggap mengurangi ruang usaha. Belum lagi kekhawatiran soal biaya adaptasi, perawatan, hingga ketidakpastian hasil panen.

Karena itu, langkah BRIDA Surabaya menyiapkan kawasan percontohan menjadi penting. Dalam konteks masyarakat pesisir, keberhasilan yang terlihat langsung sering kali lebih meyakinkan dibanding teori atau sosialisasi panjang.

Pendekatan itu juga menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak cukup berhenti pada riset laboratorium. Ia harus hadir dalam bentuk praktik yang dapat disentuh masyarakat sehari-hari.

Kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperlihatkan arah tersebut. Kebun Raya Mangrove Surabaya mulai dikembangkan sebagai laboratorium hidup yang menghubungkan teknologi, riset, dan kebutuhan masyarakat pesisir.

Sensor Internet of Things untuk memantau kualitas lingkungan, pengembangan padi salin, hingga gagasan kapal listrik ramah lingkungan menunjukkan bahwa masa depan pesisir tidak bisa lagi dipisahkan dari inovasi.

Namun, tantangan berikutnya jauh lebih besar. Silvofishery membutuhkan konsistensi kebijakan lintas sektor. Persoalan pesisir tidak hanya terkait perikanan, tetapi juga tata ruang, industri, limbah, hingga perubahan iklim.

Tanpa pengendalian pencemaran sungai dan laut, misalnya, ekosistem mangrove tetap akan tertekan. Tanpa perlindungan tata ruang, kawasan pesisir berisiko kembali tergerus proyek-proyek pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Di sinilah Surabaya menghadapi ujian penting sebagai kota metropolitan. Apakah pembangunan pesisir akan terus berorientasi pada eksploitasi jangka pendek, atau mulai bergerak menuju model ekonomi yang lebih tahan krisis.

Akar ketahanan

Silvofishery sesungguhnya bukan hanya soal tambak dan mangrove. Ia adalah pelajaran tentang cara kota memandang alam.

Selama ini, banyak kota tumbuh dengan memisahkan manusia dari ekosistemnya. Sungai diperlakukan sebagai saluran limbah, pesisir dianggap ruang cadangan reklamasi, dan hutan mangrove dipandang lahan kosong yang siap dikonversi. Akibatnya, kota kehilangan pelindung alaminya sendiri.

Surabaya mencoba mengambil jalur berbeda. Upaya memperluas tutupan mangrove sambil tetap menjaga produktivitas ekonomi memberi pesan bahwa pembangunan tidak selalu harus memilih antara lingkungan atau kesejahteraan warga.

Tentu, program ini belum sempurna. Skala implementasi masih terbatas dan membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Edukasi masyarakat, dukungan pembiayaan hijau, hingga insentif bagi petambak ramah lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Namun, dari pesisir timur Surabaya, setidaknya muncul satu pelajaran penting. Krisis lingkungan tidak selalu harus dijawab dengan proyek raksasa yang mahal. Kadang, solusi justru tumbuh dari kemampuan mengembalikan keseimbangan yang pernah hilang.

Mangrove yang berdiri di tengah tambak itu seperti mengingatkan bahwa alam dan ekonomi tidak seharusnya saling meniadakan. Di kota yang terus bergerak cepat seperti Surabaya, akar-akar mangrove mungkin menjadi cara paling sunyi untuk menjaga masa depan pesisir tetap hidup.

Sumber: Antaranews


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto.SF Hariyanto Ingatkan Daerah Jangan Telat Bayar Gaji PPPK, Siap Dibantu Pemprov Riau
Warga di Jalan Jati Jajar I, Kulim keluhkan rumah dipenuhi lalat dari pagi hingga malam (foto/ist)Rumah Dipenuhi Lalat Sepanjang Hari, Warga Kulim Desak Pemko Turun Tangan
Menteri LH, Jumhur dorong pelaku usaha garap bisnis karbon (foto/kompas)Menteri LH: Bisnis Karbon dan Biodiversitas Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Ilustrasi polisi selidiki dugaan kekerasan terhadap jurnalis di Siak (foto/int)Polisi Selidiki Kasus Dugaan Penganiayaan Jurnalis di Siak, Sejumlah Saksi Diperiksa
Ketua DPD I Golkar Riau, Yulisman (foto/ist)Kepengurusan Golkar Riau Resmi Ditetapkan, Yulisman: Kemenangan Partai Prioritas, Tak Usah Sikut-sikutan
  PT Tunggal Perkasa Plantations (PT TPP).PT TPP Miliki Komitmen Kuat Cegah Karhutla, Sistem Tanggap Darurat Dinilai Sangat Baik oleh Polri
Kepala Bapenda Riau, Ninno Wastikasari (foto/ist)Tunggakan Pajak Kendaraan di Riau Hampir Rp500 M, Pekanbaru Penyumbang Terbesar
Ilustrasi hotspot di Riau masih belum sirna (foto/int)Termasuk Riau, Hotspot di Sumatera Turun Jadi 135 Titik
PSMTI Riau menggelar Rapimprov bahas program kerja (foto/int)PSMTI Riau Gelar Rapimprov, Fokus Sinkronisasi Program dan Persiapan Munas
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Hendry Munief senam bersama PKS Tuah Madani (foto/ist)Senam bersama PKS Tuah Madani, Hendry Munief Ajak Warga Jaga Kesehatan Keluarga
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved