JAKARTA - Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, mengungkap temuan serius terkait keamanan pangan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan hasil pemeriksaan menunjukkan makanan yang dikonsumsi mengandung bahan berbahaya serta terkontaminasi bakteri. Temuan ini diperoleh melalui dua tahap pengujian, yakni uji cepat oleh dinas kesehatan setempat dan uji laboratorium lanjutan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, mengungkapkan bahwa hasil uji awal menemukan kandungan boraks pada sejumlah menu yang dikonsumsi siswa.
“Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran, dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L,” ujarnya, Minggu (3/5), dikutip dari Antara.
Ia menegaskan, penggunaan boraks dalam makanan tersebut tidak semestinya terjadi. Bahan pangan seperti telur, tempe, dan sayuran dinilai tidak memerlukan tambahan pengawet kimia.
“Ini menjadi perhatian serius karena penggunaannya tidak sesuai dan berisiko bagi kesehatan,” katanya.
Selain kandungan boraks, hasil uji laboratorium juga menemukan kontaminasi bakteri berbahaya, yakni Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
Sebelumnya, dilaporkan ratusan siswa dari jenjang PAUD hingga SMP di Kabupaten Kepulauan Anambas mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Tidak hanya siswa, sejumlah orang tua juga terdampak karena ikut mengonsumsi makanan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Anambas, Feri Oktavia, menyebutkan kejadian berlangsung pada Rabu (16/4).
Menurutnya, siswa yang terdampak berasal dari berbagai sekolah dan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP. Sumber makanan berasal dari satu penyedia, yakni SPPG.
“Bukan hanya dari satu sekolah, tetapi dari beberapa sekolah berbeda. Makanannya berasal dari satu SPPG,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah orang tua turut mengalami gejala keracunan karena mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak atau cucu mereka.
“Ada orang tua yang ikut keracunan karena mengonsumsi jatah makanan anaknya,” tambahnya.
Terkait sumber pasti penyebab keracunan, pihaknya masih melakukan pendalaman. Sampel makanan yang telah diambil akan dikirim ke laboratorium di Batam untuk diuji lebih lanjut oleh BPOM maupun laboratorium kesehatan masyarakat.