PEKANBARU – Kelangkaan dan melonjaknya harga minyak goreng subsidi merek MinyaKita kembali memicu kritik dari DPRD Kota Pekanbaru.
Anggota Komisi II DPRD Pekanbaru, Davit Marihot Silaban, menilai upaya pemerintah daerah belum menunjukkan hasil nyata meski sejumlah langkah telah dilakukan di lapangan.
Menurutnya, masyarakat masih kesulitan mendapatkan MinyaKita sesuai harga eceran tertinggi (HET), sehingga memunculkan keraguan publik terhadap efektivitas penanganan yang dilakukan pemerintah.
“Memang Disperindag sudah beberapa kali bergerak ke lapangan. Tapi hasilnya nggak ada. Itu yang kita pertanyakan, apa hasilnya. Kok masih langka,” ujar Davit, Minggu (10/5/2026).
Politisi PDI Perjuangan tersebut secara khusus menyoroti peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Tim Satgas yang telah dibentuk untuk mengatasi persoalan distribusi minyak goreng subsidi.
Ia menilai persoalan serupa bukan pertama kali terjadi di Pekanbaru, namun solusi yang muncul dinilai belum menyentuh akar masalah.
Davit menyebut, langkah penanganan yang ada sejauh ini masih sebatas konsep tanpa dampak signifikan bagi masyarakat.
“Masalah seperti ini sudah sering terjadi di Kota Pekanbaru. Namun solusinya tetap saja hanya teori di atas kertas, dan PHP (Pemberi Harapan Palsu) kepada masyarakat saja,” tegasnya.
DPRD meminta Satgas bergerak lebih agresif menelusuri penyebab kelangkaan, termasuk dugaan gangguan distribusi hingga potensi permainan oknum di rantai pasok.
Ia menilai tidak masuk akal jika strategi pemerintah kalah oleh oknum pelaku pasar sehingga kondisi tak kunjung normal.
“Kita minta Tim Satgas yang telah dibentuk Disperindag serius menelusuri penyebab kelangkaan MinyaKita. Pekan ini kita harapkan sudah bisa normal,” katanya.
Kelangkaan MinyaKita dinilai berdampak luas karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
Gangguan distribusi dan harga yang tidak sesuai HET berpotensi membebani ekonomi rumah tangga.
“Minyak goreng ini kebutuhan dasar sekarang, hampir setiap rumah pasti menggunakannya. Kalau bermasalah, maka pengaruhnya juga banyak,” pungkas Davit.