SIAK – Kekayaan sumber daya alam belum otomatis membuat seluruh warga di Kabupaten Siak menikmati fasilitas dasar yang layak.
Gambaran itu terlihat di Dusun Mungkal, wilayah yang masuk kawasan tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Saat melakukan kunjungan kerja ke daerah tersebut, Bupati Siak, Afni Zulkifli melihat langsung anak-anak sekolah harus berdesakan di bak truk untuk berangkat dan pulang sekolah.
Kondisi itu menjadi sorotan karena transportasi tersebut digunakan sebagai sarana mobilitas pelajar sehari-hari.
Afni bahkan beberapa kali meminta sopir melaju perlahan agar anak-anak tidak terjatuh selama perjalanan.
Pemandangan tersebut membuat Afni mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menghadirkan layanan dasar bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
“Macam berdosa kita sama rakyat,” ujar Afni.
Menurut dia, persoalan di Mungkal memperlihatkan adanya kesenjangan antara potensi ekonomi daerah dengan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat di wilayah terpencil.
Siak dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam, termasuk sektor perkebunan sawit dan minyak.
Namun, menurut Afni, keberadaan sumber daya tersebut belum sepenuhnya terasa manfaatnya bagi masyarakat yang tinggal di kawasan 3T.
“Nih yang ngemotong-motong DBH daerah penghasil, tengok anak-anak kami aja. Belum sanggup nak beli bus. Ini nasib, mereka tinggal di daerah yang kaya. Ada sawit, ada minyak,” katanya.
Anak-anak Minta MBG
Persoalan pendidikan bukan satu-satunya kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi di Dusun Mungkal.
Di tengah kunjungan tersebut, anak-anak juga meminta agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di wilayah mereka.
“Bu, MBG kami, Bu! MBG!” teriak anak-anak.
Afni menjawab bahwa layanan MBG belum tersedia di wilayah 3T tersebut. Ia mengatakan pemerintah daerah telah menyampaikan persoalan itu kepada Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi belum memperoleh kepastian kapan layanan dapat menjangkau Mungkal.
“MBG belum ada ya, sabar ya,” jawab Afni.
Secara nasional, BGN pada 1 Oktober 2026 mengumumkan aktivasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi di sejumlah wilayah mulai 2 Oktober.
Kebijakan tersebut menunjukkan perluasan layanan MBG terus dilakukan, tetapi ketersediaan layanan di setiap wilayah tetap bergantung pada kesiapan SPPG masing-masing daerah.
Sebelumnya, BGN juga menyatakan SPPG modular disiapkan untuk menjangkau daerah dengan akses geografis sulit, termasuk wilayah pedalaman dan kawasan yang tidak mudah dijangkau kendaraan.
Listrik hingga Transportasi Jadi Pekerjaan Rumah
Selain akses sekolah dan makanan bergizi, Afni menyebut keterbatasan listrik masih menjadi persoalan di kawasan tersebut.
Situasi ini menjadi ironi tersendiri bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, Siak memiliki potensi sumber daya alam besar.
Di sisi lain, sebagian masyarakat di daerah penghasil masih menghadapi kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Afni menilai pembangunan di daerah penghasil tidak semestinya hanya diukur dari besarnya aktivitas ekonomi dan produksi sumber daya alam.
Manfaat pembangunan, menurut dia, harus terlihat dalam bentuk layanan pendidikan, listrik, transportasi, pangan bergizi dan fasilitas dasar lainnya.
“Kalau memang nak ngambil kewenangan kami, balikkan! Tak usah kalau tak percaya kepala daerah, tak apa-apa. Tapi tolong balikkan kesejahteraan itu ke daerah penghasil seperti kami,” ujarnya.
Afni Persoalkan DBH Migas
Persoalan layanan dasar di Mungkal kemudian dikaitkan Afni dengan kapasitas fiskal Kabupaten Siak.
Ia menyoroti rencana penurunan Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi yang diproyeksikan kembali berkurang pada 2027.
Dalam rapat paripurna DPRD Siak pada 30 September 2026, Afni sebelumnya menyampaikan bahwa rancangan alokasi Transfer ke Daerah 2027 menunjukkan DBH migas Siak berpotensi turun sekitar 70 persen.
Pemkab Siak memperkirakan penerimaan tersebut hanya sekitar Rp40 miliar, jauh di bawah angka yang pernah mencapai sekitar Rp400 miliar.
Dalam konteks kebutuhan pembangunan daerah 3T, Afni mempertanyakan bagaimana pemerintah daerah dapat memperluas pelayanan dasar apabila ruang fiskal daerah terus menyempit.
“Bagaimana mungkin sebegitu teganya DBH migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan? Siapa mau bangun ini semua nih?” katanya.
Persoalan DBH tersebut bukan sekadar masalah penerimaan daerah. Bagi Pemkab Siak, besarnya transfer dari pusat ikut menentukan kemampuan daerah membiayai berbagai kebutuhan masyarakat, terutama wilayah yang membutuhkan intervensi lebih besar karena keterbatasan akses.
TPP Dipangkas, Tunjangan Guru 3T Dipertahankan
Di tengah tekanan anggaran, Pemkab Siak menyatakan tetap mempertahankan tunjangan bagi guru yang bertugas di wilayah 3T.
Afni mengatakan efisiensi anggaran membuat Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN dipangkas hingga 50 persen. Namun, tunjangan bagi guru yang bertugas di wilayah 3T tetap dipertahankan.
“Daerah 3T ini yang harus didahulukan: MBG, KDMP, listrik, semua tuh daerah 3T inilah yang paling betul-betul membutuhkan,” kata Afni.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Mungkal tidak hanya menyangkut pembangunan fisik.
Persoalan akses pendidikan, keberlangsungan tenaga pendidik, pangan bergizi dan infrastruktur dasar saling berkaitan.
Harapan Ada Bus Sekolah
Di penghujung kunjungan, Afni kembali mengingatkan anak-anak agar berhati-hati saat menggunakan kendaraan untuk pergi dan pulang sekolah.
Ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung terus-menerus. Pemkab Siak, kata dia, akan berupaya menyediakan bus sekolah apabila kemampuan keuangan daerah memungkinkan.
“Mudah-mudahan nanti Siak ada rezeki, kita beli bus sekolah ya sayang,” ujar Afni kepada anak-anak.
Pemandangan anak-anak yang harus menggunakan bak truk untuk menuju sekolah pada akhirnya menjadi gambaran konkret mengenai tantangan pemerataan pembangunan di Siak.
Bagi pemerintah daerah, persoalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari besarnya sumber daya alam yang dimiliki daerah.
“Sangat banyak rasanya salah kami pada rakyat. Semoga Allah memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan,” tukas Afni.