SIAK - Sepekan sudah asap pekat menyelimuti kawasan perkebunan sawit di Kampung Pencing Bekulo, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak.
Lahan seluas 20 hektare milik PT Agrinas kini berubah menjadi hamparan hitam meranggas akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang tak kunjung padam sejak akhir Mei lalu.
Di bawah terik matahari, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Pekanbaru, TNI/Polri (Koramil dan Babinsa), Damkar BMI, serta relawan Damkar Desa Pencing dan Desa Jambai, terus berjibaku di garis depan.
Taruhannya bukan sekadar memadamkan api, melainkan menahan agar si jago merah tidak melumat sisa perkebunan produktif di sekitarnya.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Siak, sensor satelit sebenarnya tidak menangkap adanya hotspot (titik panas) di wilayah tersebut pada hari penanganan.
Namun, realita di lapangan justru menyajikan ancaman nyata berupa firespot (titik api aktif).
Kalaksa BPBD Siak, Novendra Kasmara membenarkan, api sudah menjalar sejak seminggu sebelumnya dan membutuhkan penanganan ekstra karena karakteristik lahan.
“Lokasi kebakaran berada di kawasan kebun sawit PT Agrinas di Kampung Pencing Bekulo. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare dan hingga laporan terakhir masih dalam penanganan,” kata Novendra, Selasa (2/6/2026).
Untuk mengantisipasi perluasan dampak, tim di lapangan terpaksa melakukan strategi ganda, memadamkan titik api utama sekaligus memotong jalur penjalaran.
“Tim gabungan melakukan pemadaman dan pembuatan sekat agar api tidak menyebar ke area yang lebih luas,” lanjut Novendra.
Musuh terbesar petugas di lapangan saat ini bukanlah tiupan angin, melainkan keringnya sumber air di sekitar lokasi kejadian.
Kebun sawit yang mengering membuat parit-parit alam kehabisan suplai air, memaksa tim gabungan memutar otak demi menjaga tekanan selang pemadam tetap stabil.
Menyadari situasi yang kian kritis dan menguras energi fisik kedaruratan, BPBD Siak langsung mengambil langkah strategis dengan meminta bantuan intervensi dari udara.
“Proses pemadaman menghadapi kendala berupa terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Untuk mempercepat penanganan, telah diajukan permintaan bantuan helikopter water bombing guna mendukung operasi pemadaman dari udara,” jelasnya.
“Kami mengimbau semua pihak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditangani lebih cepat,” pungkasnya.