SIAK – Warga Kota Siak mulai mencium aroma kayu dan reranting terbakar sejak Rabu (4/2/2026). Bau menyengat yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut dirasakan mengganggu aktivitas serta berpotensi mengancam kesehatan masyarakat, terutama pada pagi hari.
Rani, seorang guru yang beraktivitas di pusat Kota Siak, mengatakan aroma asap terasa sangat pekat sejak pagi. Bau tersebut bahkan membuat hidung terasa perih dan pernapasan menjadi tidak nyaman.
“Baunya menyengat sekali sampai hidung terasa perih. Udara juga pengap, pernapasan jadi tidak enak. Ini menunjukkan karhutla sudah sangat dekat dengan kawasan perkotaan Siak,” kata Rani.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, khususnya pada pagi hari.
“Kasihan warga yang harus beraktivitas pagi-pagi, seperti kami para guru dan anak-anak murid. Pernapasan terasa terganggu,” ujarnya.
Seiring keluhan warga, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Siak. Salah satunya melanda Kampung Pebadaran, Kecamatan Pusako, pada Selasa (4/2/2026) malam.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, mengatakan kebakaran tersebut terjadi di lahan seluas sekitar 1,5 hektare.
“Begitu menerima laporan, tim langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan pemblokiran agar api tidak meluas ke area lain,” ujar Novendra.
Ia menjelaskan, kebakaran mulai terjadi pada sore hari di kawasan Jalan Sungai Apit, Kampung Pebadaran. Api membakar semak belukar, kebun sawit, serta lahan gambut milik masyarakat.
Proses pemadaman melibatkan lebih dari 30 personel gabungan dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Siak, Damkar BPBD Sungai Apit, Babinsa Kecamatan Pusako, Regu Pemadam Kebakaran (RPK) Arara Abadi, Manggala Agni Daops Siak, unsur kecamatan, serta Satpol PP.
“Pemadaman didukung peralatan darat seperti mesin pompa dan selang, serta pemantauan kondisi lapangan menggunakan drone,” jelas Novendra.