www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Di Hadapan Wisudawan Umri, Sekdaprov Riau Soroti Perubahan Pola Pikir Lulusan
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Pengamat Minta Pemprov Riau Libatkan Akademisi dan LSM Ahli untuk Tim Satgas Konflik Lahan
Jumat, 02 Februari 2024 - 21:06:10 WIB
Pengamat kebijakan publik, doktor M Rawa El Amady. Meski apresiasi pembentukan tim satgas penanganan konflik lahan Riau, ia menilai harusnya akademisi dan LSM yang lebih ahli dilibatkan pula. (foto:ist)
Pengamat kebijakan publik, doktor M Rawa El Amady. Meski apresiasi pembentukan tim satgas penanganan konflik lahan Riau, ia menilai harusnya akademisi dan LSM yang lebih ahli dilibatkan pula. (foto:ist)

PEKANBARU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah membentuk tim satuan petugas (satgas) untuk menangani persoalan konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan sawit di Provinsi Riau.

Asisten I Setdaprov Riau Zulkifli Syukur mengatakan tim terpadu ini akan melibatkan Polda Riau, Korem 031 Wirabima, Kejati Riau, BPN Riau, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Rencananya, tim ini akan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) yang akan dikeluarkan oleh Gubernur Riau," kata Zulkifli, Senin (29/1/2024) lalu.

Menanggapi hal tersebut, pengamat kebijakan publik sekaligus dosen pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Lancang Kuning, doktor M Rawa El Amady mengapresiasi langkah tegas Pemprov Riau khususnya Gubernur Riau (Gubri) Edy Natar Nasution yang akhirnya membentuk tim satgas penanganan konflik lahan.

"Pertama 'kan kalau kita pahami dari niat baiknya, tentu kita sambut baiklah karena selama ini belum ada pembentukan satgas yang dilakukan provinsi terutama satgas penanganan konflik," kata dia saat dihubungi halloriau, Jumat (2/2/2024).

Namun, Rawa yang juga akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau itu menilai tim satgas tersebut masih membutuhkan ahli atau expert di bidang konflik lahan seperti para akademisi di universitas-universitas yang ada di Riau dan Non Goverment Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang permasalahan konflik lahan antara masyarakat dengan korporasi.

"Harusnya ini tidak hanya level pejabat dan aparat saja. Karena permasalahan konflik ini tidak sederhana. Jadi kalau saya sarankan, libatkan universitas, NGO yang expert dibidang itu. Di sini (di Riau) 'kan sudah banyak LSM yang sudah expert salah satunya Perkumpulan Scale Up yang sudah sangat expert dalam menangani konflik gitu," ujarnya.

Menurut Rawa, tim satgas penanganan konflik lahan bentukan Pemprov Riau tidak perlu lagi bekerja dari awal apabila melibatkan LSM dan peneliti di bidang yang sama.

"Contoh LSM Perkumpulan Scale Up itu, dia sudah menyelesaikan lebih dari 24 kasus, sudah punya konsep dan segalanya, tinggal lanjutin aja. Kalau Pemprov mau, kampus itu juga bisa dilibatkan, apalagi di Riau ini ahli konflik tidak banyak, bisa dilibatkan itu," jelasnya.

Sementara dari DPRD Riau sebagai lembaga legislatif, Rawa menyebut harusnya bisa mendorong kerja Pemprov Riau dalam bentuk pembuatan kebijakan bukannya membentuk semacam tim panitia khusus (pansus) sendiri untuk bergerak menindak perusahaan-perusahaan yang berkonflik dengan masyarakat.

"Saya enggak sepakat kalau DPRD Riau itu melakukan teknis. Itu bukan tugas dia. Tugas dia itu hanya budgeting dan pengawasan. Yang dulu dia lakukan sendiri itu, itu ngapain? Harusnya tugas itu dilaksanakan oleh eksekutif kalau dalam undang-undangnya," sebut Rawa.

DPRD Riau, ia melanjutkan, memang bisa menggunakan tenaga ahli untuk mengumpulkan data dan mengecek namun tujuannya adalah untuk mendorong Pemprov Riau untuk menyelesaikan konflik serta mendorong pembuatan kebijakan.

"Bukan dia lakukan sendiri tampil ini, begini. Kalau dia panggil (perusahaan yang bermasalah), harus melalui dinas karena itu tugas dinas, tugas Pemprov. Saya kok lihatnya anggota DPRD itu banyak tidak paham dengan tugasnya. Mereka ini 'kan legislatif, fungsinya hanya pengawasan, perumusan kebijakan dan rencana anggaran," pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Gubri Edy Natar Nasution mengungkap ada banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkonflik dengan masyarakat.

Ratusan perusahaan tersebut menguasai IUP seluas 1,73 juta hektare (Ha).

"Hanya saja dari luas perkebunan 1,7 juta ha lebih tersebut, baru 145 perusahaan perkebunan sawit yang mengantongi HGU atau baru 53%, dengan luas lahan 992.992,02 Ha atau baru 57%," ungkapnya, Rabu (24/1/2024) lalu.

Penulis: Rinai
Editor: Satria



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Sekdaprov Riau, Syahrial Abdi.(foto: mcr)Di Hadapan Wisudawan Umri, Sekdaprov Riau Soroti Perubahan Pola Pikir Lulusan
Sidak pedagang Minyakita di Pekanbaru menjual di atas HET.(ilustrasi/int)Sidak Harga MinyaKita di Pekanbaru, Polisi Temukan Pedagang Jual di Atas HET
6 nama lolos calon Direktur dan Komisaris PT SPR menuju tahap akhir seleksi oleh Plt Gubri SF Hariyanto (foto/int)6 Orang Lolos Calon Direksi PT SPR, Nama Taufik Arrakhman Masuk Bursa
Ratusan jemaah calon haji Pekanbaru diberangkatkan ke Batam (foto/tribunpku)Kloter Terakhir Jemaah Haji Pekanbaru Berangkat, 237 Orang Menuju Embarkasi Batam
Suratman terpilih nahkodai KTNA Riau periode 2026–2031 (foto/ist)Terpilih Nahkodai KTNA Riau, Suratman Siap Perkuat Ketahanan Pangan
  Pemprov Riau gelontorkan dana untuk beasiswa.(ilustrasi/int)Rp62 Miliar Digelontorkan, 3.644 Mahasiswa Riau Dapat Beasiswa 2026
Sebaran titik panas di Sumatera sore ini.(infografis/halloriau.com)Inhu Jadi Satu-satunya Lokasi Titik Panas di Riau Sore Ini
Program “The Kurban Series 1447 H” Dompet Dhuafa Riau menargetkan 3.000 penerima manfaat (foto/ist)Program The Kurban Series, Dompet Dhuafa Riau Targetkan 3 Ribu Penerima Manfaat
PSDKU PNP Pelalawan menggelar PKTOS 2026, wadah pengembangan bakat dan sportivitas mahasiswa (foto/Andy)PSDKU PNP Pelalawan Gelar PKTOS 2026, Wadah Pengembangan Bakat dan Sportivitas Mahasiswa
BMKG mencatat 21 hotspot atau titik panas di Sumatera, Riau menjadi wilayah terbanyak kedua (foto/int)Termasuk Riau, BMKG Catat 21 Hotspot di Sumatera
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved