PEKANBARU - ATLAS Coffee bekerjasama dengan IYES Foundation menggelar talkshow bertajuk 'Membangun Sinergi untuk Pendidikan Berkeadilan di Riau' di ATLAS Roastery, Pekanbaru, Minggu (21/12/2025).
Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian program Brew for Good: ATLAS x IYES, yang sebelumnya diisi dengan penyaluran fasilitas pendidikan ke sejumlah sekolah di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Provinsi Riau.
Sebelum pelaksanaan talkshow, ATLAS dan IYES telah turun langsung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan Kepulauan Meranti.
Bantuan fasilitas pendidikan disalurkan kepada sekolah dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari proses tersebut, satu hal menjadi jelas: ketimpangan pendidikan di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan nyata yang membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
Berangkat dari realitas tersebut, talkshow ini menghadirkan ruang dialog lintas sektor dengan melibatkan Akademisi sekaligus Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Dr Aidil Haris dan Owner ATLAS Coffee, Nazla Fakhira.
Kemudian perwakilan Bappeda Riau Muhammad Ikhsan, Wartawan Halloriau.com Sri Wahyuni dan influencer yang kerap mengangkat isu pendidikan Vega Aisyah serta, influencer pendidikan yang aktif menggerakkan isu pendidikan, serta Founder IYES Foundation Hari Novar.
Dalam sesi diskusi, Dr Aidil memaparkan hasil asesmen lapangan selama lima tahun terakhir yang menunjukkan perbedaan kondisi pendidikan yang cukup tajam antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
"Keterbatasan fasilitas belajar dan dukungan sumber daya manusia membuat sekolah-sekolah di desa berada pada posisi yang jauh berbeda dibandingkan sekolah di kota," katanya.
Meski demikian, Ia menegaskan kondisi tersebut tidak dapat disikapi dengan menyamakan standar pendidikan desa dan kota. Tantangan semakin kompleks seiring dengan perubahan kurikulum pendidikan yang terus berlangsung.
Di lapangan, katanya, sekolah-sekolah di daerah terpencil kerap belum sepenuhnya menyelesaikan proses adaptasi ketika kebijakan baru kembali diterapkan.
"Dapat kita sadari bahwa standar penilaian pendidikan di desa dan kota itu sangat berbeda. Karena itu, penguatan sumber daya manusia melalui dukungan fasilitas belajar menjadi penting. Kegiatan pemberian fasilitas pendidikan yang dilakukan ATLAS dan IYES ini tentu sangat membanggakan," ungkapnya.
Selain aspek akademik, Aidil menegaskan bahwa persoalan terbesar pendidikan justru terletak pada penguatan soft skill dan karakter. Menurutnya, kecerdasan tanpa sikap dan etika tidak akan memberikan dampak jangka panjang.
Ia juga menyinggung persoalan standarisasi penilaian sekolah di kota dan desa yang masih timpang, serta perlunya penyesuaian regulasi agar standar pendidikan dapat diterapkan secara lebih adil.
"Di sisi lain, pendidikan berbasis sosial dinilai masih sangat minim mendapat ruang dalam kebijakan dan praktik pendidikan," tegasnya.
Dari sisi pemerintah daerah, perwakilan Bappeda Provinsi Riau Muhammad Ikhsan menyoroti pentingnya membangun motivasi pendidikan di sekolah-sekolah wilayah 3T.
"Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan di tingkat provinsi, tetapi juga pada sejauh mana sinergi antar pemangku kepentingan di tingkat lokal dapat berjalan. Niat baik pemerintah perlu diiringi dengan pelaksanaan tugas dan fungsi yang konsisten di lapangan," ungkapnya.
Sementara itu, Owner ATLAS Coffee Nazla Fakhira yang ikut terjun langsung dalam menyalurkan bantuan di Meranti itu menegaskan bahwa kolaborasi dalam program Brew for Good tidak lepas dari peran IYES Foundation sebagai mitra yang memiliki pengalaman dan konsistensi dalam kerja-kerja pendidikan di daerah.
"Kami sangat mengapresiasi IYES atas pendampingan, pendekatan lapangan, serta komitmen yang terbangun sejak proses penyaluran fasilitas hingga penyelenggaraan ruang dialog lintas sektor ini," sebutnya.
Melalui talkshow ini, ATLAS dan IYES menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, akademisi, media, pelaku usaha, komunitas, dan generasi muda untuk membahas tantangan pendidikan secara terbuka.
Diharapkan tidak berhenti pada forum, tetapi menjadi langkah awal kolaborasi nyata dalam mendorong pendidikan yang lebih adil dan berkelanjutan di Riau.