www.halloriau.com
BREAKING NEWS :
Gubri Minta Satpol PP Bersikap Santun pada Masyarakat Saat Pantau PPKM Level 4
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
“Menjual” Pesona Eksotis Tujuh Hantu Bono
Rabu, 16 Juni 2021 - 15:02:47 WIB
Tiga peselancar Australia saat sukses pecahkan rekor dunia beselancar di Ombak Bono, Sungai Kampar, Pelalawan, Riau, 2016 lalu. (net)
Tiga peselancar Australia saat sukses pecahkan rekor dunia beselancar di Ombak Bono, Sungai Kampar, Pelalawan, Riau, 2016 lalu. (net)

Oleh: Andy Indrayanto

“Itulah gelombang Bono…!” tunjuk seorang guide local, Anton, pada rombongan turis yang datang dari Benua Eropa.

Salah seorang turis mencubit lengannya. Terasa sakit. Dia tak bermimpi menyaksikan semua ini. Deru gelombang Bono begitu memukau penglihatannya sekaligus meletupkan rasa petualangannya, bergulung-gulung menghempaskan apa saja yang menghalanginya. Ini membangkitkan adrenalinnya untuk menjajal kedahsyatan gelombang Bono yang sudah menjadi buah bibir di kalangan para surfer mancanegara.

Siang itu, di pertengahan Maret 2016, di tengah gemuruh gelombang Bono, sayup-sayup teriakan tiga surfer dari Australia bagai ingin memecah deburan ombak sungai Kampar. Sorak-sorai ketiga surfer Australia; James Cotton, Zig Van Der Sluys dan Roger Gamble, seperti ingin mengalahkan suara gemuruh serta gulungan ombak Bono yang menderu menyeramkan. Pertengahan Maret itu, ketiga surfer Australia berhasil memecahkan rekor mampu berselancar tanpa jatuh dengan kalkulasi jarak sejauh 37,2 km (satu jam dua menit). Bahkan James Cotton menorehkan namanya sebagai peselancar perorangan terjauh, dengan jarak 17,2 km tanpa jatuh.

Dengan torehan angka ini, tiga bule tersebut mengklaim berhasil memecahkan rekor dunia untuk surfing di sungai terlama yang pernah dilakukan, dimana 2013 lalu tiga orang dari Inggris bernama Steve King, Nathan Maurice dan Steve Holmes hanya mengukir jarak sekitar 20,12 Km namun itu pun “cacat” karena beberapa kesalahan.

James Cotton dan timnya mencatat rekor fantastis dari lokasi berselancar yang terkenal dengan fenomena ombaknya yang langka, lantaran terbentuk pada aliran sungai, yakni di muara Sungai Kampar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau. Ombak langka ini disebut dengan istilah seven ghost, atau bahasa setempat dinamakan Ombak Bono.

"Di sini ombak favorit saya, tempat berselancar sungai paling unik, dan kemarin (Kamis, 10/3/2016), kami pecahkan rekor (surfing) terlama tanpa jatuh. Saya sendiri sesuai catatan, juga berhasil melampaui jarak terlama yang pernah dibuat untuk peselancar perorangan,” kata James Cutton, saat menceritakan soal pemecahan rekornya, kala itu.

Wisata gelombang Bono saat ini memang sudah semakin dikenal oleh para pesurfer lokal maupun dunia. Betapa tidak, selancar yang biasanya dilakukan di pantai-pantai seperti Bali, Hawaii atau tempat-tempat berselancar terkenal lainnya, tapi ini berselancar di sebuah sungai bernama Kampar. Gulungan ombak bercampur pasir dalam balutan air sungai yang kecoklatan, menjadi keunikan dan tantangan tersendiri. Ini yang membuat selancar di Sungai Bono menjadi sesuatu yang luar biasa dan dashyat, serta menantang adrenalin para surfer mancanegara untuk mencoba mencumbui papan selancar mereka di Bono.

Ini juga diakui oleh sang Guiness Book of Record Bono yakni James Cotton. Katanya, ombak Bono yang dijuluki Tujuh Hantu adalah gelombang tujuh tingkat yang sudah melegenda dan bisa ditaklukkan berjamaah. Itu terjadi lantaran Sungai Kampar bisa menciptakan 21 buah gelombang secara bersamaan. Sehingga jika puncak Bono terjadi, maka 21 surfer bisa berselancar bersamaan. Alasan itulah yang membuat peselancar Australia itu berhasrat untuk memecahkan rekor dunia surfing di Sungai Kampar, dan akhirnya berhasil pecahkan rekor di Guiness Book of Record, menggantikan rekor Steven King di tahun 2013.

Ya, gelombang Bono dengan segala kedahsyatannya memang sebuah fenomena alam yang menakjubkan. Ia bagaikan “surga tersembunyi” di sebuah daerah yang baru menjadi kabupaten di tahun 1999. Sebuah anugerah tak terhingga dari Sang Pencipta bagi Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan Teluk Meranti. Apalagi gelombang Bono yang tercipta di Sungai Kampar ini cuma ada dua di dunia. Sungai Amazon yang mengalir di Benua Amerika bagian selatan adalah satunya lagi yang memiliki fenomena yang menakjubkan ini. Tapi untuk kualitas ombak, Kampar lebih hebat daripada Amazon.

Bono sendiri ialah air pasang yang amat tinggi, yang seolah-olah disorong dari laut oleh kekuatan yang luar biasa dan masuk ke dalam muara sungai, hingga 3 atau 4 tingginya dengan kecepatan 10-30 Kilometer per jam. Secara ilmiah, Bono terjadi karena Selat Malaka itu makin ke selatan semakin sempit. Di bagian yang sempit itulah terletak Kepulauan Riau. Air pasang yang datang dari lautan Hindia mengalir masuk ke Selat Malaka, dan di bagian yang sempit itu terhalang perjalanannya.

Sebagian air mengalir terus melalui selat-selat di antara pulau-pulau itu dan sebagian lagi mengalir kembali ke utara. Nah, air yang dari sebelah utara itu didorong kembali ke selatan oleh arus berikutnya yang datang dari Lautan Hindia. Maka masuklah air itu ke dalam muara Sungai Rokan dan Kampar dengan kekuatan besar.

Jika air pasang, kira-kira seperempat jam air sungai dalam kondisi tenang. Tapi beberapa saat kemudian, barulah kelihatan Bono yakni air yang menggulung-gulung dengan dahsyatnya di atas beting yang dangkal. Setelah Bono berlalu, baru kemudian datang kepala arus yaitu arus sungai deras yang menjadi “kusir” sungai. Karena tumpuan Bono itu ke teluk dan pantai di sepanjang sungai, ini membuat gulungan air yang besar menuju kembali ke muara menyambut arus, yang disebut Pemulang. Tumpuan Pemulang itu menuju ke tepi pantai, menjadikan pula air yang membuncah ke tengah, disebut Pelembak.

Gelombang Bono atau Beno – begitu lidah masyarakat setempat menyebutnya – sendiri mulai kelihatan dan bertambah besar mengacu pada peredaran bulan tanggal 9 atau 10 sampai 18 (hari bulan Kamsiah). Dan kemudian mulai mengecil tanggal 26 atau 28 sampai paling besar tanggal 3 hari bulan, dan kembali mengecil pada tanggal 19, 20 sampai 24 jika pasang mati, lalu Bono itu tidak ada lagi.

Bagi masyarakat setempat, sejak ratusan silam, gelombang Bono dianggap sebagai perwujudan tujuh hantu yang bergentayangan di sepanjang muara Sungai Kampar. Dan tujuh hantu tersebut kerapkali membolak-balikkan kapal serta memakan korban. Dari cerita Melayu lama berjudul Sentadu Gunung Laut, disebutkan bahwa setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka.

Namun sekarang, masyarakat Teluk Meranti dan Kuala Kampar menganggap Bono sudah sebagai anugerah alam yang diberikan bagi daerah ini. Penduduk yang berani akan ‘mengendarai’ Bono dengan sampan mereka, tidak dengan menggunakan papan selancar pada umumnya. Bahkan kala itu, mengendarai sampan di atas ombak Bono menjadi suatu kegiatan ketangkasan. Tetapi kegiatan ini memiliki resiko tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan akan dapat dihempas oleh ombak Bono, bahkan tak jarang ada sampan yang hancur berkeping-keping.

Bagi masyarakat sekitar yang sudah terbiasa dengan kedatangan Bono dan bernyali besar. Kedatangannya malah disambut dengan memacukan sampan lalu meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar, dan atraksi ini oleh penduduk tempatan disebut Bekudo Bono yaitu suatu bentuk kearifan lokal masyarakat setempat yang hampir punah. Jika diperhatikan, Bekudo Bono itu memang mirip dengan atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar.

“Ketangkasan Bekudo Bono ini sebenarnya sudah jauh dilakukan oleh orang tua-orang tua kita. Dulu, mereka bermain ombak bono hanya dengan menggunakan sampan bukan dengan papan selancar yang seperti kita kenal saat ini, dan biasanya mereka sengaja menunggu bono setelah siap memasang jaring atau mengangkat jaring. Supaya cepat sampai rumah dan tak capek mengayuh sampan yang dahulu tak dilengkapi dengan mesin, rupanya mereka memanfaatkan gelombang bono ini untuk menyorong sampan mereka,” jelas mantan Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan, H Zulkifli S.Ag, dalam suatu kesempatan.

Sekarang, perwujudan tujuh hantu yang kini lebih dikenal sebagai the Seven Ghost of The Kampar River itu justru dinanti-nanti oleh masyarakat setempat karena sebagai pembawa berkah. Banyaknya wisman dan domestik serta adanya komunitas surfer local saat ini yang datang ke Teluk Meranti hanya untuk ‘menjajal’ keganasan the Seven Ghost, makin menyadarkan masyarakat dan pemerintah setempat bahwa tujuh hantu yang ditakuti itu ternyata hanyalah fenomena alam biasa, bahkan mampu menarik wisatawan. Meski Bono terletak di salah satu hutan rawa gambut yang tersisa di Indonesia dan butuh waktu berjam-jam mencapainya jika lewat daratan, namun potensi dan pesona keeksotisan Bono yang pertama kali ditemukan oleh World Stormrider Guide’s Mastermind, Antony Colas, bersama-sama dengan sekelompok peselancar Perancis, pada bulan September 2010 itu, kian waktu kian memikat para pesurfer luar negeri.

Didasari berbagai fenomena yang menakjubkan inilah, mantan Bupati Pelalawan, HM Harris, sejak awal menjabat Bupati Pelalawan di tahun 2011, tak bosan-bosannya “menjual” pesona eksotis Bono di tiap kunjungannya; baik lokal, nasional maupun internasional. Sebagai penduduk asli di daerah ini, ia menyadari kedahsyatan wisata Bono yang mampu dan bisa dijual ke mancanegara sebagai pendongkrak wisata di daerah ini. Pemikiran visionernya pun berjalan. Karena itu, sejak dilantik menjadi Bupati Pelalawan bersama Drs H Marwan Ibrahim sebagai wakilnya di periode pertama jabatannya sebagai Bupati Pelalawan tahun 2011, pesona eksotis yang dimiliki Bono sudah menarik perhatiannya. Bahkan tak tanggung-tanggung, destinasi wisata Bono ini kemudian masuk dalam tujuh (7) program prioritas unggulan dalam masa jabatannya, baik periode pertama dan periode kedua jabatannya, dengan label Pelalawan Eksotis.

Dan untuk menggenjot lebih maksimal wisata Bono, pertengahan November di tahun 2013, Pemkab Pelalawan menggelar Festival Bekudo Bono dengan skala Internasional. Dalam festival ini, Wakil Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamen Parekraf) Republik Indonesia saat itu, DR Sapta Nirwandar, berkenan membuka langsung festival dengan tema “Bono Menyapa Indonesia dan Dunia”.

Pada kesempatan tersebut, Wamen Parekraf  menyatakan pujiannya secara terbuka terkait fenomena gelombang Bono. Menurutnya, gelombang bono adalah suatu nikmat dan anugerah dari Tuhan, karena bono ini tidak dimiliki semua daerah atau negara yang memiliki sungai dan mempunyai gelombang yang bisa dijadikan surfing.

“Ke depan, semoga gelombang Bono bisa menjadi wisata andalan di Kabupaten Pelalawan. Sepengetahuan saya, hanya ada lima gelombang unik ini di dunia, yakni, di Brazil, Inggris, Alaska, China dan Indonesia. Dan Bono Indonesia asal Pelalawan ini gelombangnya di atas dari empat yang ada di dunia. Jadi ini mesti dijaga sebagai aset Pelalawan dan Provinsi Riau,” ujarnya.

Di tahun 2016, pada masa kepemimpinan Bupati HM Harris, destinasi Bono masuk dalam paket “Riau Menyapa Dunia” bersama empat event wisata lainnya yang menjadi andalan di Riau yakni event Pacu Jalur Kuansing, Tour de Siak, Pacu Jalur Kuansing, Bakar Tongkang di Rohil, Gema Muharam di Indragiri Hilir dan Riau Marathon. Dilaunching Mei tahun itu di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata (Kemenpar), mantan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, yang hadir langsung dalam event “menjual” pariwisata Riau itu menyambut baik adanya launching "Calender of Event Riau 2016" ini. Menurutnya, ini sebagai wujud tekad Provinsi Riau menjadikan wisata sebagai sektor andalan selain minyak sawit dan gas.

Dalam launching paket wisata bertajuk “Riau Menyapa Dunia” itu, wisata Bono berhasil menjadi wisata unggulan bersama dengan empat wisata lainnya yang ada di Riau. Keberhasilan wisata Bono menjadi wisata unggulan di Riau ini dikarenakan obyek wisata Bono memang sudah mendunia dan infrastrukturnya pun sudah dimulai. Tindak lanjut dari itu, Pemprov Riau kemudian memutuskan wisata Bono di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata di Riau.

"Ini termasuk mendukung adanya program kami yakni mendatangkan 12 juta wisman ke nusantara. Kami berharap segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan wisata di Riau, benar-benar digarap. Mulai dari infrastruktur sampai promonya juga," kata Menpar Arief Yahya, pada kesempatan tersebut.

Tak hanya itu, Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Presidn Jokowi periode pertama itu juga mengakui bahwa sensasi Bono bisa menjadi destinasi wisata yang unik, karena selancar di muara sebuah sungai bukan di pantai-pantai pada umumnya.

"Ini jelas destinasi wisata yang unik dan memiliki nilai jual dan potensi bagi Kabupaten Pelalawan khususnya dan Riau umumnya," katanya.
 
Diakui oleh orang nomor satu di Kementerian Pariwisata RI kala itu, saat tiga peselancar dari Australia berhasil memecahkan Guiness Book of Record yang selama ini dipegang Steven King, ia menilai bahwa dari sisi atraksi, Ombak Bono itu istimewa. Pasalnya, tidak semua daerah di Indonesia punya tempat dengan ombak di sungai sepanjang itu. Namun Amenitas atau fasilitas pendukung demi kelancaran kegiatan pariwisata dan akses menuju ke lokasi itu yang harus mendapatkan perhatian. Apalagi syarat destinasi layak untuk dipromosikan bagus itu adalah 3A yakni atraksi, amenitas dan akses.

"Dan problem Ombak Bono adalah akses dan amenitas. Jika dua itu dipenuhi dan diurus dengan baik, maka Kemenpar akan mempromosikan lebih gencar lagi," ujarnya.

Prasyarat yang disampaikan oleh Kemenpar RI itu langsung ditindaklanjuti oleh Pemrov Riau dan Pemkab Pelalawan sendiri. Pasalnya, dengan masuknya Bono dalam paket wisata Riau Menyapa Dunia, memang harus ada persyaratan untuk menjadikan wisata tersebut menjadi objek wisata unggulan. Diantaranya, adanya penunjukan kawasan Bono yang harus dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda). Kemudian, adanya wisata Bono yang menjadi kawasan strategis yang harus ditetapkan di Peraturan Bupati (Perbup).

"Semua itu sudah kita lakukan. Soal penyelenggaraan kepariwisataan Bono sudah ada Perda-nya, yakni Perda Nomor 6 tahun 2015 tentang penyelenggaraan kepariwisataan. Juga tentang bono sebagai kawasan strategis pariwisata Pelalawan sudah dituangkan dalam Peraturan Bupati Nomor 27 tahun 2016," papar Zulkifli.

Selain tak bosan-bosannya Bupati Pelalawan HM Harris “menjual” pesona eksotis Bono dalam berbagai kunjungannya, Pemkab Pelalawan juga terus berupaya membenahi infrastruktur jalan dan lainnya. Diantaranya, pembangunan gedung tourism yang pada tahun 2015 kontraknya diputuskan karena habis waktunya, akan kembali dilanjutkan. Kemudian pembangunan Jalan Lintas Bono sepanjang 7 Kilometer dengan anggaran sekitar Rp 40 miliar yang berada di Dinas Cipta Karya Provinsi Riau.

Tak hanya itu, Bupati Pelalawan HM Harris bersama pihak Bappenas kala itu juga telah meninjau jalan Lintas Bono dan menentukan titik jalan yang akan dibangun. Penyediaan genset serta lampu menggunakan tenaga matahari (PLTS), juga dianggarkan di tahun 2016 untuk Wisata Ombak Bono. Di samping itu, Pemkab Pelalawan telah mempersiapkan lahan seluas 600 Ha untuk kawasan objek wisata bono. Posisi lahan Kawasan Objek Wisata Bono tersebut berada pada posisi strategis karena hampir berhadapan langsung dengan dua buah negara, yaitu negara jiran Malaysia dan Singapura.

Infrastruktur lainnya yang kini sudah ada di lokasi Bono adalah tersedianya alat penunjang keselamatan (Life Vest) bagi pengunjung/penonton bono, penyediaan alat transportasi air (jetski) untuk kunjungan dan rescue. Pagelaran seni budaya di kawasan objek wisata bono setiap tahun. Pembangunan (semenisasi) jalan lingkungan di Desa Teluk Meranti oleh Dinas PU & Cipta Karya tahun 2013 dan 2014. Adanya pembinaan serta penyuluhan sadar wisata  dan sapta pesona bagi masyarakat tempatan, pembekalan kemampuan berbahasa asing (Inggris) bagi masyarakat lokal. Dan adanya pendampingan kelompok masyarakat di Teluk Meranti Tahun 2014 serta adanya Festival Bekudo Bono di tahun 2103.

“Bantuan rehab untuk homestay tahun 2013, pembukaan jalan dari Jalan Lintas Bono ke Tanjung Bau Bau sepanjang 3,2 Km oleh Dinas PU Kabupaten Pelalawan Tahun 2013. Expedisi Johor - Tanjung Balai Karimun - Pelalawan (Bono) di bulan Juni 2014,” beber mantan Kadisbudpora Pelalawan saat itu, H Zulkifli.

Tak hanya itu, jauh-jauh hari Pemkab Pelalawan telah melakukan penyusunan Detil Engineering Design (DED) Kawasan Objek Wisata Bono dan Desain Animasi  di tahun 2014 yang dikerjakan oleh PT Nusa Karya Dupama (NKD), khusus untuk pengembangan obyek wisata Bono. Tujuan dari penyusunan Rencana Tehnik Terinci Kawasan Pariwisata Bono ini adalah tersusunnya dokumen rencana yang bersifat teknis dan terperinci, yang akan menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dalam membangun sarana dan prasarana yang diperlukan di dalam kawasan pengembangan wisata Bono itu sendiri.

Sasaran dari penyusunan DED ini sendiri adalah tersusunnya suatu rencana teknis yang benar-benar terperinci, dari mulai besaran skala pembangunan, pembiayaan serta tahapan pembangunan dari setiap komponen dan obyek wisata, sebagaimana yang telah ditetapkan pada Rencana Induk atau masterplan pembangunan kawasan Pariwisata Bono. Secara global, kawasan wisata Bono nantinya akan terbagi menjadi tiga (3) zona besar yakni pertama adalah Zona Utama, kedua Zona Desa Wisata dan ketiga Zona Eko Wisata.

"Sehingga dengan begitu, nantinya di kawasan itu akan terlaksana pembangunan Kawasan Wisata secara komprehensif dari setiap sarana dan prasarana yang dibangun di kawasan Wisata Bono itu," ujarnya.

Sedangkan upaya yang dilakukan Pemprov Riau diantaranya adalah pembangunan jembatan yang menghubungkan desa Teluk Binjai dan Teluk Meranti Tahun 2012–2013, sosialisasi Sapta Pesona Tahun 2013 (Disparekraf), pengerasaan Jalan Lintas Bono sepanjang 16 Km lebar 7 m, Tahun 2015 (Bina Marga), peningkatan Jalan Teluk Meranti–Gintung oleh Dinas Tahun 2015 (Bina Marga) dan pembinaan Desa Wisata.

Dari Promosi Hingga Pembangunan Infrastruktur Jalan Lintas Bono

Kini, meski kepemimpinan di Kabupaten Pelalawan telah berganti pasca Pilkada 2020 lalu, namun mimpi dan harapan “menjual” pesona Bono tak pernah lekang. Semua menyakini, keeksotisan Bono dengan segala pesonanya yang ada akan mampu mendongkrak perekonomian daerah khususnya masyarakat tempatan dalam mendukung program pembangunan nasional di bidang pariwisata.

Meski ganti kepemimpinan, Bupati dan wakil Bupati Pelalawan terpilih, Zukri-Nasaruddin, tetap memprioritaskan pariwisata khususnya Bono dalam visi dan misinya yang termaktub dalam Pelalawan Maju 2026. Salah satu misinya, yakni mengembangkan pariwisata daerah berbasis partisipasi masyarakat dan budaya melayu sebagai perekat negeri (Maju Wisata & Budaya), menjadi salah satu bukti itikad duet Zukri-Nasaruddin memaksimalkan potensi pariwisata yang ada di daerah ini.

Karena itu, saat Kunjungan Kerja Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo ke Pelalawan, awal Juni 2021 lalu, Zukri yang merupakan mantan Wakil Ketua DPRD Riau itu tak menyia-nyiakan momentum yang berharga untuk menyampaikan aspirasi terkait berbagai dukungan pembangunan Pelalawan ke pemerintah pusat. Diserahkannya proposal usulan pembangunan ke pemerintah pusat untuk membantu pembangunan di Kabupaten Pelalawan.

Proposal ini adalah meminta dukungan berbagai pembangunan di Pelalawan, salah satu diantaranya Bupati Zukri meminta dukungan baik Pemerintah Provinsi Riau ataupun pemerintah pusat guna penuntasan Jalan Lintas Bono yang merupakan akses ke objek wisata yang sudah mendunia yakni Ombak Bono.
Dia menyebut Pelalawan memiliki potensi wisata alam kelas dunia. Namun sampai saat ini, ironisnya wisata unik di dunia yang ada di Kecamatan Teluk Meranti itu belum didukung oleh infrastruktur yang memadai.

"Dukungan besar kami harapkan untuk kemajuan Pelalawan dari pemerintah pusat," kata Bupati Zukri, saat kunjungan kerja Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) ke Pelalawan.

Terutama dalam hal dukungan pembiayaan sektor riil yang mampu meningkatkan produktifitas masyarakat dan daya saing daerah. Karena itu, dirinya berharap Ketua MPR RI dapat membantu pembangunan di Kabupaten Pelalawan melalui alokasi anggaran pembangunan yang bersumber dari APBN.

Zukri yang dilantik menjadi Bupati tanggal 26 April lalu itu lebih jauh menjelaskan bahwa saat ini kondisi infrastruktur menuju kawasan wisata Bono masih menjadi kendala yang signifikan padahal di kawasan wisata Bono yang terletak di Kecamatan Teluk Meranti tersebut terdapat ombak Bono yang namanya sudah melegenda di kalangan para pesurfer mancanegara.

"Bono adalah salah satu ikon Kabupaten Pelalawan, karena yang terbesar dan unik ini hanya ada dua di dunia, di Brazil dan Pelalawan. Ada potensi yang luar biasa di Bono ini," tandasnya.

Namun, lanjut Bupati kelahiran Kuala Terusan, Pelalawan, Riau ini, di wilayah timur Kabupaten Pelalawan itu juga masih ada 20 desa yang masih terisolir. Sehingga perlu infrastruktur jalan yang memadai, yakni Jalan Lintas Bono yang menjadi salah satu akses penting di wilayah timur Pelalawan.

"Jadi di timur Pelalawan itu masih ada sekitar 20 desa yang terisolir, kami butuh peningkatan Jalan Lintas Bono. Karena itu merupakan salah satu akses jalan yang sangat penting di Kabupaten Pelalawan yang masih termarginalkan di Indonesia, di Pelalawan, Riau yang harus mendapat perhatian khusus. Apalagi daerah ini langsung berbatasan dengan provinsi tetangga maupun dengan negara lain," bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan, Andi Yuliandri S.Kom, dikonfirmasi soal ini mengakui bahwa persoalan utama yang menjadi kendala dalam mengembangkan wisata Bono adalah soal infrastruktur Jalan Lintas Bono (Jalinbon) yang tak kunjung tuntas.

“Yang terpenting itu akses Jalinbon menuju kawasan wisata Bono. Itu memang jalan provinsi, karena itu Pak Bupati meminta dukungan selain dari APBD Provinsi juga dari APBN,” kata Andi pada penulis, awal Juni lalu.

Dengan kondisi Jalinbon saat ini, tidak bisa menarik wisatawan local maupun mancanegara secara maksimal. Apalagi jika musim penghujan, jalan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur di sana-sini, sehingga tak bisa dilewati oleh kendaraan biasa. Padahal tiap tahunnya, Pemkab Pelalawan memiliki agenda tahunan di Kawasan Wisata Bono tersebut yakni Bekudo Bono. Agenda wisata tahunan tersebut memang digelar sebagai salah satu bentuk promosi yang efektif, dan sejauh ini sudah banyak wisatawan local maupun mancanegara yang tahu dengan agenda Bekudo Bono itu.

Bupati Pelalawan, H. Zukri, menyerahkan proposal usulan pembangunan di Pelalawan, salah satunya meminta dukungan penuntasan jalan lintas Bono ke Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo. (net)


"Tapi lagi-lagi ya itu, infrastruktur Jalinbon yang membuat agenda wisata Bekudo Bono dinilai tak maksimal. Karena paling hanya wisatawan yang memiliki minat khusus saja yang datang. Seperti para peselancar yang memang menemukan rasa petualangannya saat selancar mereka “bercumbu” dengan ombak Bono. Namun bagi para wisatawan atau masyarakat kebanyakan yang ingin santai sambil menikmati alam, mereka akan urung dengan kondisi jalan tanah yang berlumpur jika hujan dengan kubangan di sana-sini. Namun jika kondisi Jalinbon bagus dan lancar, tentu semua orang akan datang menikmati event-event yang rutin kita selenggarakan di sana. Jadi tak mengandalkan hanya dari wisman saja, turis local pun akan bisa lebih maksimal datang,” kata mantan Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Pelalawan ini.

Andi mengatakan bahwa penuntasan Jalinbon harus menjadi target utama karena ia sebagai pembuka akses jalan menuju Kecamatan Teluk Meranti, dimana event wisata Bono selalu digelar selain akan membuka akses 20 desa yang terisolir. Artinya, amenitas atau fasilitas pendukung demi kelancaran kegiatan pariwisata dan akses menuju ke lokasi itu menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan.

Diakui Andi, selama ini untuk promosi terus dilakukan pihaknya, baik melalui Disbudparpora Pelalawan, Provinsi bahkan Kementerian. Namun lagi-lagi promosi itu harus terbentur dengan kondisi infrastruktur Jalinbon yang belum memadai. Menurutnya, investor kemungkinan berpikir ulang jika akan menanam investasinya untuk mengembangkan kawasan wisata Bono. Padahal di kawasan wisata Bono itu, baru 15 hektare dari 600 hektare tanah milik Pemda Pelalawan yang baru digarap guna mendukung kawasan wisata Bono. Artinya, masih ada 500 hektare lebih di kawasan itu yang bisa ditawarkan pada investor untuk menanamkan investasinya dalam mengembangkan kawasan Wisata Bono.

“Bayangkan saja, misalnya, ada investor yang mau menanamkan investasinya di kawasan Wisata Bono dan melihat kondisi jalan menuju kawasan itu tak bagus. Tentu dia akan bertanya soal progress Jalinbon ini kapan selesai? Kita jelas tak bisa menjawab, kapan Jalinbon itu selesai. Jadi bagaimana orang mau datang ke sini jika akses jalannya tak bagus,” keluh Andi.

Dia lalu mencontohkan Pulau Rupat di Bengkalis, Riau. Pulau yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka itu begitu ditetapkan menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), langsung berkembang. Dia berharap Wisata Bono juga bisa ditetapkan sebagai KSPN sehingga semua Kementerian di Pusat bisa turun untuk ‘menggarap’ Wisata Bono.

Bupati Pelalawan, H. Zukri, saat meninjau jalan lintas Bono yang menjadi akses bagi masyarakat di wilayah tersebut. (net)


"Saya pikir, Kawasan Wisata Bono harus dibikin dulu statusnya menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), seperti halnya Pulau Rupat. Jika sudah ditetapkan seperti itu, nanti akan mudah dikembangkan karena banyak Kementerian yang akan masuk. Kementerian PUPR bisa masuk, Kementerian Perhubungan bisa masuk, Kementerian Perekonomian bisa masuk. Ini artinya, kita mendapatkan point-point yang lebih besar, dan Kementerian Pariwisata pun dalam mencari investor akan lebih mudah," harapnya.

Setelah Jalinbon clear, lanjutnya, tentu ada prioritas lain yang harus dikerjakan. Seperti; tempat menonton ombak Bono, kemudian tempat menginap, tempat makan, sholat sampai tempat toilet pun harus dipersiapkan. Karena itulah, penuntasan infrastruktur Jalinbon merupakan kunci penting dalam pengembangan maksimal kawasan wisata Bono. Tak hanya itu, tanah Pemda yang ada di Kawasan Wisata Bono bisa dikembangkan sampai ke Tanjung Bau-Bau jika progress Jalinbon usai. Pengembangan itu juga termasuk jalan dalam Kawasan Wisata Bono yang harus diprioritaskan supaya nanti kalau orang menonton ada aksesnya.

"Selama ini tempat orang menonton ombak Bono itu di Pantai Ogis, Teluk Meranti. Kalau mau menonton secara dekat harus naik speedboat tapi ini tidak direkomendasikan karena berbahaya. Soalnya kalau motor speedboat-nya kandas, bisa tergulung ombak Bono," ujarnya.

Penuntasan Jalinbon, menurutnya, selain akan mendongkrak Wisata Bono lebih maksimal juga secara otomatis mengangkat perekonomian di Kabupaten Pelalawan terutama masyarakat, apalagi jika jalan tersebut sampai ke Pulau Muda tentu itu akan lebih bagus lagi.

“Di sana, kita bisa buat juga pelabuhan di Pulau Muda, dan para pengunjung yang datang dari Tanjung Batu akan lebih mudah melihat kedahsyatan Bono. Apalagi jika sampai ke Sokoi kemudian buat pelabuhan di sana maka akan lebih bagus lagi karena wisatawan dari mancanegara seperti Singapura dan Malaysia bisa lebih dekat,” katanya.

Kondisi Jalan lintas Bono jika musim penghujan. (net)


Dia mengatakan dalam proposal yang diserahkan Bupati Zukri pada Ketua MPR RI itu usulan pembangunan Jalinbon targetnya memang sampai ke Sokoi. Tapi itu memang tergantung dari dana yang digelontorkan karena Jalinbon sampai ke Sokoi itu ratusan kilometer.

"Kita jelas berharap pengajuan proposal itu bisa direalisasikan secepatnya, meski harus dilaksanakan secara bertahap. Misalnya, terselesaikan Jalinbon sampai ke Teluk Meranti kemudian sampai ke Pulau Muda, lalu bertahap lagi sampai ke Sokoi. Dan kalau kita buat pelabuhan di Sokoi, sangat menguntungkan karena aspeknya bukan hanya Wisata Bono saja tapi pertanian juga bisa bergerak di situ. Kita bisa buat wisata Agro sehingga bisa terkoneksi dengan pertanian kita di Penyalai, Kuala Kampar,” ungkapnya.

Secara nama dan promosi, objek wisata Bono memang sudah sangat dikenal. Satu program andalan milik Kabupaten Pelalawan ini sudah di ambang mata untuk mengantarkan kesuksesan mendatangkan wisatawan mancanegara, yang pada akhirnya otomatis akan membangkitkan perekonomian d daerah ini. Namun sangat disayangkan, jika hasrat yang kuat pada wisatawan masih terganjal dengan terjalnya jalan dan sulitnya medan yang sampai saat ini belum terealisasi sepenuhnya.

Karena itu, penuntasan jalan lintas bono menjadi suatu kemestian yang harus direalisasikan. Sinergi Pemerintah Pusat, Pemprov Riau dan Pemkab Pelalawan dengan menggandeng perusahaan-perusahaan yang ada di Riau, bukan tak mungkin akan terwujud yang selama ini menjadi kendala untuk mengembangkan Wisata Bono.

Jika kolaborasi ini tercipta, diharapkan wisata Bono yang lokasinya berada di depan negara jiran Malaysia dan Singapura, tidak hanya menjadi salah satu wisata andalan daerah ini saja atau Riau, tapi juga bisa menjadi salah satu ujung tombak potensi wisata di Indonesia, dalam  "menjual" pesona eksotis tujuh hantu Bono dengan segala kedahsyatannya. Semoga!***


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA LAINNYA    
Gubri saat melepas Satpol PP memantau pelaksanaan PPKM Level 4 di Pekanbaru.Gubri Minta Satpol PP Bersikap Santun pada Masyarakat Saat Pantau PPKM Level 4
Kepala Kanwil Dirjen Pemberdaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Ismed SaputraRealisasi Penyaluran Bantuan Program PEN di Riau Capai Rp 2,24 Triliun
Foto: IstPPKM Level 4 Diperpanjang, Pusat Registrasi Resi Gudang Patikan Petani Tetap Bisa Registrasi
Kepala Balai PPW Riau, Ichwanul Ihsan foto bersama disela vaksinasi yang digelar Selasa (27/7/2021).Pegawai PUPR dan Masyarakat Antusias Vaksinasi di Balai PPW Riau
Gubernur Riau H Syamsuar (tengah) ketika melakukan peninjaun jalan yang rusak di sejumlah daerah di Riau.Gubri Peringatkan Truk Over Kapasitas Tak Lintasi Jalan Provinsi
  Ketua Umum Hipmi Pekanbaru Rizky Bagus Oka Apresiasi Revisi Aturan PPKM Level 4, Hipmi Pekanbaru Sebut Jadi Napas Baru Bagi Pengusaha
Anggota DPR RI dari PKB dimint perjuangkan Blok Rokan untuk Rohil.Bupati Berharap Anggota DPR RI dari PKB Perjuangkan Blok Rokan untuk Rohil
Program Desa Bebas Api atau Fire Free Village Program (FFVP) tahun 2021.PT RAPP Luncurkan Inovasi Holistik Program Desa Bebas Api di Siak
IlustrasiTerus Naik, Harga TBS Sawit Riau Tembus Rp2.643/Kg
Rapat Paripurna DPRD Inhu.Rapat Paripurna DPRD Inhu, Bupati Sampaikan Pidato Pertamanya
Komentar Anda :

 
Potret Lensa
Peserta Antusias Vaksinasi di Balai PPW Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2021 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved