PELALAWAN - Pascaserangan harimau sumatera yang menewaskan seorang pekerja salah satu perusahaan di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat dengan memasang dua unit kandang jebak (box trap) di lokasi kejadian.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi terulangnya interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatera di area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI).
Korban diketahui bernama Eko Prastio (29), warga Kelurahan Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar. Korban yang merupakan karyawan perusahaan diterkam harimau sumatera di sekitar camp pekerja di Desa Sungai Ara pada Jumat (10/7/2026).
Pelaksana Harian Kepala Balai Besar KSDA Riau, Laskar Jaya Permana, mengatakan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah penanganan, termasuk memasang dua kandang jebak di lokasi serangan.
"Kami minta perusahaan agar menerapkan SOP secara ketat serta menghimbau seluruh masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar kawasan habitat Harimau Sumatera agar meningkatkan kewaspadaan," ungkap Laskar Jaya Permana, Selasa (14/7/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat dan para pekerja agar tidak beraktivitas seorang diri, terutama pada malam hingga dini hari. Selain itu, perusahaan diminta memastikan sistem pengamanan camp pekerja berfungsi dengan baik untuk meminimalkan risiko serangan satwa liar.
Dalam operasi tersebut, satu kandang besi dipasang di dekat camp pekerja, sementara satu unit lainnya ditempatkan di kawasan hutan yang diduga menjadi lintasan harimau. Upaya itu dilakukan dengan harapan harimau dapat ditangkap secara aman dan selanjutnya dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
"Sampai saat ini tim kami masih di lapangan. Sinyal agak sulit di lokasi, jadi belum ada update terbaru," katanya.
Sementara itu, Camat Pelalawan, Theopandu Al Rasyid, S.STP mengatakan berdasarkan komunikasi dengan aparat Desa Sungai Ara, tim BBKSDA Riau masih berada di lokasi untuk melanjutkan penanganan pascaserangan harimau yang merenggut nyawa karyawan.
"Pihak perusahaan juga disarankan untuk memberikan pelatihan khusus kepada karyawannya yang tinggal di areal tersebut," ujar Camat Theopandu.
Menurutnya, pelatihan tersebut penting agar para pekerja mampu beradaptasi dengan kondisi alam di sekitar habitat harimau sumatera serta memahami langkah-langkah keselamatan guna menghindari interaksi negatif dengan satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae tersebut.