PEKANBARU - Pemko Pekanbaru mulai mengubah pola penanganan banjir dengan memetakan persoalan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.
Langkah ini dinilai penting karena genangan yang muncul di sejumlah kawasan tidak selalu disebabkan persoalan yang sama.
Wakil Walikota Pekanbaru, Markarius Anwar mengatakan, penanganan banjir tidak bisa dilakukan dengan satu pola untuk seluruh wilayah kota. Pemerintah akan membagi kawasan berdasarkan titik dan sumber persoalannya, kemudian menentukan intervensi yang sesuai.
"Kita akan cek satu persatu untuk pengendalian banjir di Kota Pekanbaru. Kita harus fokus karena masih banyak wilayah kota yang terendam banjir saat hujan," ujar Markarius, Jumat (2/10/2026).
Menurut Markarius, Pemko Pekanbaru dalam waktu dekat akan menurunkan master plan penanganan banjir yang sudah dimiliki menjadi rencana teknis untuk masing-masing kawasan.
"Kita akan petakan satu persatu, kita akan bagi per wilayah. Sebab setiap wilayah persoalannya berbeda-beda," katanya.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian Pemko Pekanbaru adalah Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tuah Madani.
Wilayah tersebut masih menghadapi persoalan genangan ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Salah satu opsi yang disiapkan pemerintah adalah mengoptimalkan fungsi Waduk Cipta Karya sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir kawasan.
Namun, waduk tersebut masih memiliki keterbatasan infrastruktur. Salah satunya belum tersedianya pintu air yang dapat mengatur aliran air secara lebih optimal.
Pemko Pekanbaru berencana melakukan pembenahan Waduk Cipta Karya pada 2027. Sementara pembangunan pintu air saat ini masih berada pada tahap perencanaan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan saluran air yang menghubungkan kawasan Jalan Suka Karya dengan Jalan Cipta Karya.
Untuk pekerjaan saluran air tersebut, Markarius menyebut prosesnya sudah berlangsung pada 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan banjir Pekanbaru tidak hanya bergantung pada pembangunan drainase baru.
Pengendalian debit air, konektivitas antarsaluran, kapasitas waduk dan keberadaan pintu air juga menjadi bagian penting yang harus dibenahi.
Di sisi lain, Pemko Pekanbaru terus mengerjakan pembangunan drainase pada sejumlah ruas jalan. Salah satu kawasan yang mendapat penanganan berada di sekitar Jalan Paus.
Namun, pembangunan infrastruktur baru bukan satu-satunya pekerjaan yang diperlukan. Pemerintah juga akan melihat kondisi saluran yang sudah ada, termasuk kemungkinan terjadinya pendangkalan.
"Kemudian di wilayah lain mungkin terjadi pendangkalan aliran sungai atau drainase, sehingga dilakukan pengerukan," jelas Markarius.
Pendekatan tersebut membuat penanganan banjir diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pemeliharaan dan peningkatan kapasitas infrastruktur yang telah tersedia.
Sebelumnya, Pemko Pekanbaru juga telah melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan.
Setelah pekerjaan tersebut, pemerintah kini mengarahkan perhatian lebih besar pada persoalan banjir yang masih berulang ketika hujan turun.