PEKANBARU - Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Pekanbaru, Rabu (16/9/2026). Namun, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memastikan kabut asap tersebut bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dalam kota.
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho mengatakan, kondisi karhutla di Kota Pekanbaru saat ini terkendali. Bahkan, berdasarkan kondisi terkini, tidak ditemukan titik panas atau hotspot di wilayah ibu kota Provinsi Riau tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Agung dalam Sosialisasi Produk Hukum di Rumah Dinas Wali Kota Pekanbaru baru-baru ini. "Hari ini, kondisi sangat cerah, walaupun sejatinya asap masih banyak menerpa Kota Pekanbaru," kata Agung.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kabut asap yang dirasakan masyarakat bukan akibat adanya kebakaran di wilayah Pekanbaru.
"Namun, titik api di Kota Pekanbaru sama sekali tidak ada. Bisa dikatakan zero," ujarnya.
Agung menjelaskan, kondisi karhutla di Provinsi Riau secara umum juga telah terkendali. Karena itu, asap yang masih menyelimuti Pekanbaru diduga merupakan asap kiriman dari wilayah di luar Riau.
"Artinya, tidak ada titik api di Kota Pekanbaru. Bahkan, api sudah terkendali di Riau. Namun, asap masih ada tetapi asap yang ada memang berasal dari titik api di luar Provinsi Riau," jelas Agung.
Data titik panas BMKG pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan jumlah hotspot di sejumlah wilayah Sumatera masih cukup tinggi. Dari total 5.983 titik panas yang terpantau di Sumatera, sebanyak 4.169 titik berada di Sumatera Selatan.
Selain Sumatera Selatan, BMKG mencatat 735 titik panas di Jambi, 446 titik di Bangka Belitung dan 378 titik di Lampung.
Sementara itu, Riau tercatat memiliki 115 titik panas. Titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota, namun Pekanbaru tetap nihil hotspot.
Di Riau, titik panas terdeteksi di Kuantan Singingi sebanyak enam titik, Pelalawan lima titik, Rokan Hulu satu titik, Rokan Hilir dua titik, Indragiri Hulu 84 titik, Indragiri Hilir 16 titik dan Dumai satu titik.
Tingginya jumlah hotspot di wilayah Sumatera bagian selatan menjadi salah satu perhatian karena asap dari kawasan tersebut dapat terbawa angin menuju Riau.
BMKG mencatat arah angin pada Rabu (16/9/2026) bergerak dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan 10-40 kilometer per jam. Kondisi angin tersebut turut memengaruhi pergerakan asap dari wilayah yang mengalami karhutla.
Dengan kondisi tersebut, kabut asap yang masih dirasakan masyarakat Pekanbaru tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran di dalam kota. Nihilnya hotspot di Pekanbaru justru menguatkan bahwa asap yang menyelimuti wilayah tersebut dapat berasal dari sumber kebakaran di luar daerah.
Agung mengapresiasi seluruh pihak, termasuk TNI dan Polri, yang telah berupaya mengendalikan karhutla di Riau. Ia meminta kondisi tersebut tetap dipertahankan agar tidak muncul titik api baru.
Masyarakat juga diimbau bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca kembali kering.