PEKANBARU – Museum Sang Nila Utama di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, bersiap menjadi ruang pertemuan antara seniman, kolektor, dan pecinta seni dalam gelaran Artists–Art Fair Pekanbaru 2026. Sebanyak 129 karya seni rupa dari 24 seniman akan dipamerkan di 11 bilik pameran selama empat hari, mulai 27 hingga 30 Juni 2026.
Perhelatan ini menghadirkan konsep berbeda dari pameran seni pada umumnya. Alih-alih mengandalkan galeri sebagai perantara, Artists–Art Fair Pekanbaru menempatkan seniman sebagai aktor utama yang berhadapan langsung dengan pengunjung dan calon kolektor di bilik pameran masing-masing.
Konsep tersebut menjadi upaya menghadirkan format baru dalam ekosistem seni rupa kontemporer, di mana seniman tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga mengelola presentasi, kurasi, hingga membangun komunikasi langsung dengan publik.
Perumus konsep Artists–Art Fair Pekanbaru, Fachrozi Amri, mengatakan gagasan itu lahir dari proses riset panjang yang berawal dari diskusi sederhana di kedai kopi.
“Kami coba menerobos cara baru dengan membuat formula di mana para pemilik gagasan punya peran penting terhadap karya mereka sendiri,” ujarnya.
Menurut Amri, pameran ini mengusung dua format utama, yakni artist individual booth dan solo individu yang diyakini belum memiliki padanan dalam lanskap pameran seni rupa di Indonesia.
Konsep tersebut kemudian diajukan ke program Dana Indonesiana yang bekerja sama dengan LPDP. Proposal itu diterima dan menjadi dasar penyelenggaraan uji coba art fair berbasis seniman pertama di Pulau Sumatera.
“Kami sadar ini adalah uji coba dengan format yang kami klaim sendiri,” kata Amri.
Ia menegaskan, apabila ke depan terdapat penelitian lanjutan mengenai metodologi tersebut, seluruh proses akan dievaluasi secara terbuka.
Artists–Art Fair Pekanbaru 2026 merupakan penerima dukungan Dana Hibah Kebudayaan Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI melalui program pendayagunaan ruang publik subproduk/teknologi.
Artistic Director Artists–Art Fair Pekanbaru, Ade, menilai Pekanbaru memiliki modal sejarah yang kuat sebagai kota bandar yang sejak dahulu menjadi pusat perdagangan. Karakter itu dinilai relevan untuk membangkitkan kembali pasar seni di daerah.
“Senimannya banyak, tapi tempat untuk memasarkan karya sangat kurang. Kita ingin membangkitkan ruh Pekanbaru sebagai bandar, apalagi di usia dua abad lebih tentu semakin memperkuat akar sejarahnya,” katanya.
Pameran ini juga mengusung prinsip kesetaraan antarseniman. Tidak ada pengelompokan berdasarkan usia maupun pengalaman. Peserta termuda bahkan berusia sembilan tahun, Yuki Calista, yang menampilkan karya-karya hasil eksplorasi imajinasi dari mimpinya.
Meski masih anak-anak, Yuki tidak diberi label khusus sebagai seniman cilik. Posisi dan ruang pamerannya disetarakan dengan seluruh peserta lainnya.
Seluruh seniman mengajukan proposal secara mandiri, mengkurasi karya, merancang tata letak bilik, hingga menentukan karya utama yang ingin dipresentasikan kepada publik.
Ragam medium yang ditampilkan pun cukup luas, mulai dari lukisan di atas kanvas, kain, media campuran, hingga instalasi interaktif. Pengunjung tidak hanya menikmati karya, tetapi juga dapat berdialog langsung dengan para seniman untuk memahami ide, proses kreatif, dan pesan di balik setiap karya.
Interaksi tersebut menjadi inti dari program "Bertemu Seniman di Bilik" yang dirancang sebagai pengalaman utama dalam pameran.
Menariknya, pembukaan pameran juga dirancang berbeda. Kolektor menjadi tamu pertama yang akan memasuki ruang pameran.
“Yang akan membuka acara adalah kolektor yang akan membeli karya,” ujar Ade.
Panitia menjual tiket secara daring melalui platform artatix.co.id dengan harga Rp35.000. Penjualan tiket hanya dilakukan secara online dan hingga sepekan menjelang pembukaan menunjukkan tren yang terus meningkat.
Partisipasi seniman juga datang dari berbagai daerah, tidak hanya Pekanbaru, tetapi juga Jambi dan Yogyakarta, sebagai upaya memperluas jejaring seni rupa lintas wilayah.
Selain menjadi ruang transaksi karya seni, Artists–Art Fair Pekanbaru juga diharapkan menjadi wadah kolaborasi, pertukaran gagasan, sekaligus memperkuat hubungan antara seniman dengan masyarakat.
Fachrozi bahkan meyakini format yang diusung memiliki potensi berkembang lebih luas di tingkat regional.
“Kalau sekarang memang masih individual artisnya, tapi ke depan kami melihat peluang yang lebih luas,” ucapnya.
Melalui konsep yang menempatkan seniman sebagai pusat ekosistem, Artists–Art Fair Pekanbaru mencoba menawarkan model baru yang berpotensi menjadi referensi bagi penyelenggaraan art fair di Asia Tenggara, sekaligus menguji apakah pendekatan berbasis seniman mampu menjadi arus baru dalam industri seni rupa global.