PEKANBARU - Lonjakan titik panas atau hotspot kembali menjadi perhatian di Sumatera. Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat 2.983 hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera pada Rabu (30/9/2026) sore.
Sebaran hotspot tersebut sangat terkonsentrasi di Sumatera Selatan yang mencapai 2.244 titik, atau sekitar tiga perempat dari total hotspot yang terpantau di Pulau Sumatera.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengatakan, hotspot juga terdeteksi di sejumlah provinsi lain dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Selatan.
“Total titik panas wilayah Sumatera sore ini terpantau sebanyak 2.983 titik,” ujar Deby.
Selain Sumatera Selatan, Jambi menjadi daerah dengan jumlah hotspot cukup tinggi, yakni 350 titik, disusul Lampung sebanyak 236 titik dan Kepulauan Bangka Belitung 125 titik.
Sementara itu, kondisi Riau relatif jauh lebih rendah. BMKG mencatat hanya 11 hotspot di provinsi tersebut.
Hotspot Riau tersebar di lima kabupaten. Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni tujuh titik, sedangkan masing-masing satu titik terdeteksi di Kuantan Singingi, Pelalawan, Siak dan Indragiri Hilir.
Rincian hotspot Sumatera berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru meliputi, Sumatera Selatan 2.244 titik, Jambi 350 titik, Lampung 236 titik dan Bangka Belitung 125 titik.
Kemudian, Bengkulu 4 titik, Sumatera Barat 4 titik, Kepulauan Riau 4 titik, Sumatera Utara 3 titik dan Aceh 2 titik.
Sedangkan hotspot di Riau tersebar di Indragiri Hulu 7 titik, Kuantan Singingi 1 titik, Pelalawan 1 titik, Siak 1 titik dan Indragiri Hilir 1 titik.
Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot Sumatera pada Rabu sore berada di bagian selatan pulau, terutama Sumatera Selatan. Dari total 2.983 titik yang terpantau, sekitar 75 persen berada di Sumatera Selatan.
Besarnya konsentrasi hotspot di provinsi tersebut membuat perkembangan cuaca dan arah angin menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan, terutama bagi wilayah yang berpotensi terdampak asap apabila hotspot berkembang menjadi kebakaran terbuka.
Di Riau sendiri, jumlah hotspot yang terpantau masih relatif terbatas. Namun, keberadaan titik panas di lima kabupaten tetap membutuhkan pemantauan, khususnya di daerah yang memiliki kondisi lahan dan cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran.
Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit dan tidak secara otomatis berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran. Karena itu, diperlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Dengan lonjakan hotspot yang mencapai hampir 3.000 titik di Sumatera, perkembangan situasi dalam beberapa hari ke depan menjadi penting untuk dipantau, terutama apabila kondisi atmosfer dan curah hujan belum cukup membantu menekan potensi kebakaran.